SUMENEP, MaduraExpose.com – Panggung politik nasional mendadak riuh. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul pada awal Februari 2026 ini memicu gelombang diskusi yang tak kunjung usai. Dengan nada tegas khas “Macan Asia”, Prabowo melontarkan tantangan terbuka kepada para pengkritik kebijakan pemerintahannya untuk “bertarung” secara kesatria pada Pemilu 2029 mendatang.
Langkah ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah gestur kekuasaan yang mengundang beragam tafsir dari berbagai sudut pandang ideologi.
Gerindra: Politik Konstruktif vs Politik Nyinyir
Pihak Gerindra melalui Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan pembelaan yang cukup rasional. Baginya, tantangan tersebut adalah bentuk undangan bagi mereka yang tidak setuju dengan arah bangsa saat ini untuk menyusun konsep dan bertarung secara demokratis melalui pemilu, bukan sekadar membangun narasi tanpa solusi.
Dalam kacamata Gerindra, kritik tetap dibutuhkan selama bersifat konstruktif. Tantangan “Tarung 2029” dipandang sebagai cara Prabowo mendidik publik agar oposisi tidak hanya berhenti pada kritik di media sosial, melainkan berani maju menawarkan alternatif kepemimpinan di jalur konstitusi.
PDIP: Menjaga Nalar Kritik Demokratis
Di sisi lain, PDI Perjuangan (PDIP) menanggapi hal ini dengan nada waspada namun tetap elegan. Sebagai partai yang sering mengambil posisi sebagai “penyeimbang”, PDIP menekankan bahwa kritik adalah bensin bagi mesin demokrasi. Muncul kekhawatiran jika narasi “bertarung di pemilu” dijadikan dalih untuk membungkam aspirasi publik yang kritis sebelum tahun politik 2029 tiba.
Para politisi banteng mengingatkan bahwa tugas presiden adalah mengayomi seluruh rakyat, termasuk mereka yang bersuara sumbang, tanpa harus menunggu momentum lima tahunan untuk mendengarkan keluh kesah masyarakat.
Analisis Pengamat: Strategi Menakar Kekuatan?
Menariknya, pengamat politik mulai memetakan siapa sebenarnya sasaran tembak dari pidato tersebut. Nama-nama potensial pun bermunculan. Pengamat menyebut tantangan ini bisa jadi ditujukan untuk mengunci pergerakan figur-figur yang sudah mulai “curi start” melakukan manuver politik.
Namun, dari sisi filsafat politik, tantangan Prabowo ini bisa dibaca sebagai upaya menciptakan “Agonisme Politik”—sebuah kondisi di mana konflik disalurkan melalui kompetisi yang sah, bukan permusuhan yang memecah belah bangsa.
Sudut Pandang MaduraExpose.com: Politik adalah Edukasi
Secara editorial, kita harus melihat fenomena ini dengan jernih. Politik bukan sekadar urusan “menang dan kalah”, melainkan tentang bagaimana setiap kebijakan berdampak pada meja makan rakyat kecil.
-
Bagi Pemerintah: Tantangan ini adalah tanda kepercayaan diri yang tinggi, namun jangan sampai melupakan bahwa kritik harian adalah “rem” agar kekuasaan tidak melampaui batas.
-
Bagi Oposisi & Pengkritik: Ini adalah panggilan untuk naik kelas. Kritik harus disertai data dan tawaran konsep yang lebih baik.
Kesimpulannya, tahun 2029 memang masih jauh secara kalender, namun secara psikologi politik, “genderang perang” gagasan sudah ditabuh di Sentul. Siapa yang berani menjawab? Rakyatlah yang akan menjadi hakim agung di kotak suara nanti. [*]
Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose Editorial








