MaduraExpose.com- Drama perebutan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep memasuki babak paling krusial. Hasil assessment kompetensi telah dilempar ke publik, dan hasilnya cukup mengejutkan: satu figur terhempas karena Tidak Memenuhi Syarat (TMS), sementara satu lainnya memilih “angkat bendera putih” sebelum bertempur.
Kini, tersisa enam figur kuat yang akan saling sikut dalam adu gagasan di Surabaya pada Jumat dan Sabtu (6-7 Februari 2026). Publik pun bertanya-tanya: Apakah seleksi ini murni adu otak, atau sekadar formalitas menuju nama yang sudah “dikantongi”?
Penyaringan Ketat: Satu Gugur, Satu Mundur
Kepala BKPSDM Sumenep, Benny Irawan, mengonfirmasi bahwa dari delapan nama awal, hanya enam yang berhasil mengamankan tiket ke tahap penulisan makalah dan wawancara.
“Keputusan pansel bersifat mutlak. Kami pastikan prosesnya transparan,” tegas Benny, seolah menepis keraguan publik akan adanya intervensi dalam penentuan jabatan tertinggi ASN di lingkungan Pemkab Sumenep ini.
Daftar 6 “Gladiator” Birokrasi Sumenep
Inilah enam sosok yang kini sedang bertaruh nasib di Surabaya. Redaksi menyusun profil mereka berdasarkan posisi strategis yang mereka duduki saat ini:
-
Drs. Mohamad Iksan, M.Si – Sang nakhoda di Dinas Pendidikan yang kini mencoba peruntungan di level manajerial yang lebih luas.
-
Ir. Chainur Rasyid, M.Si – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian yang kenyang pengalaman di sektor hulu perut rakyat.
-
Ferdiansyah Tetrajaya, SH – Kepala Bapenda yang selama ini menjadi “juru tagih” andalan PAD Sumenep.
-
Achmad Dzulkarnain, S.Sos – Kepala Bakesbangpol, sosok yang lincah menjaga stabilitas politik dan keamanan daerah.
-
R. Abd. Rahman Riadi, SE, MS – Kepala Dinsos P3A, figur yang akrab dengan isu sosial dan perlindungan hak perempuan-anak.
-
Agus Dwi Saputra, S.Sos – Kepala DPMD, sang penggerak desa yang kini membidik kursi nomor satu di Sekretariat Daerah.
Independensi Pansel di Bawah Sorotan
Meski tim pansel diklaim independen karena dipimpin oleh BKD Provinsi Jawa Timur dan melibatkan tiga akademisi, mata publik Sumenep tetap melotot tajam. Hasil akhir seleksi ini hanya akan menyisakan Tiga Nama Besar untuk disetorkan ke meja Bupati.
Pertanyaan besarnya: Siapakah yang memiliki “chemistry” paling kuat dengan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo? Sebab, pada akhirnya, hak prerogatif Bupati-lah yang akan menentukan siapa dari ketiga nama itu yang berhak memegang tongkat komando administrasi Sumenep.
Jangan sampai seleksi terbuka yang menghabiskan energi dan anggaran ini hanya menjadi panggung sandiwara demi melegitimasi sosok “titipan”. Rakyat menunggu Sekda yang berani, bukan sekadar pengetuk palu birokrasi!










