Pandalungan dalam Selarik Tari, Saat Topeng Kaliwungu Merajut Harmoni di Altar Politik Banteng

oleh -638 Dilihat
Topeng Kaliwungu: Harmoni Pandalungan di Pembukaan Konferda Jatim" 🎭✨ Sebanyak 12 penari dari Sanggar Budaya Padhe binaan DPC PDI Perjuangan Lumajang memukau peserta Konferda-Konfercab Serentak di Surabaya (20/12). Menampilkan akulturasi budaya Jawa-Madura (Pandalungan), tarian ini menjadi simbol semangat berkepribadian dalam kebudayaan yang mengawali konsolidasi akbar partai. [dok. Istimewa]
Terbit: 20 Desember 2025 | 14:41 WIB

SURABAYA – Di bawah langit Surabaya yang sedang menenun takdir kepengurusan baru, sebuah simfoni peradaban menyeruak di antara deru konsolidasi. Sabtu (20/12/2025), pembukaan Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan Jawa Timur tidak dibuka dengan pekik retorika yang gersang, melainkan melalui rona mistis dan eloknya Tari Topeng Kaliwungu.

Sebanyak 12 penari dari Yayasan Sanggar Budaya Padhe, binaan DPC PDI Perjuangan Lumajang, melantai dengan gemulai namun bertenaga. Di wajah mereka tersemat topeng, namun di balik kayu yang dipahat itu, terpancar jiwa Pandalungan yang hidup—sebuah pertemuan mesra antara nafas Madura yang maskulin dan kelembutan Jawa yang meditatif.

 


Ziarah Estetika: Dari Migrasi Menjadi Warisan

Tarian ini adalah sebentuk prasasti gerak yang lahir dari rahim sejarah sekitar tahun 1940, saat gelombang migrasi masyarakat Madura menyentuh tanah Lumajang. Di tangan seniman Sanemo asal Desa Kaliwungu, akulturasi ini tak berakhir sebagai benturan, melainkan menjelma menjadi keindahan yang diakui dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Karakter gerakan “cakilan”—ayunan tangan ekspresif dan patahan kepala yang presisi—seolah menceritakan kisah dua jiwa yang kini telah luluh dalam satu identitas. Sisi tegas khas Madura berselingan dengan kehalusan Mataraman, menciptakan irama yang sejuk di tengah hangatnya dinamika politik.

Filosofi Baladewa: Berani Karena Benar

Di balik hentakan kaki para penari, tersimpan pesan esoteris bagi para kader partai. Windy Meilia, Ketua Yayasan Sanggar Budaya Padhe, menjelaskan bahwa tarian ini adalah personifikasi dari Prabu Baladewa.

“Ia adalah gambaran tentang ketegasan yang lugas. Sosok yang berani karena benar. Kami menitipkan harapan agar generasi bangsa dan para kader memiliki sifat ksatria seperti itu; tegak dalam kebenaran tanpa kehilangan budi pekerti,” ungkap Windy dengan nada syahdu.

Sikap politik yang sejuk tercermin saat PDI Perjuangan Jawa Timur memberikan ruang seluas samudera bagi kesenian lokal untuk bertahta di acara kenegaraan partai. Ini bukan sekadar hiburan pembuka, melainkan penegasan dari doktrin “Berkepribadian dalam Kebudayaan”.

Seni Sebagai Tiang Penyangga Solidaritas

Zainal Abidin, sang pembina sanggar, memaknai kehadiran tari ini sebagai bentuk apresiasi politik terhadap akar rumput budaya. Penyatuan Topeng Kaliwungu dengan Jaran Slining di atas panggung Konferda adalah metafora dari persatuan; bahwa perbedaan latar belakang adalah kekayaan, bukan sekat pemisah.

Penampilan ini membuktikan bahwa politik di tangan PDI Perjuangan Jawa Timur tidak melulu soal angka dan kekuasaan, melainkan juga tentang merawat ingatan. Di sela-sela pembahasan strategis organisasi, Topeng Kaliwungu hadir sebagai pengingat: bahwa setinggi apa pun pohon politik tumbuh, ia tidak boleh melupakan tanah tempat akarnya menghujam.

Malam itu, politik dan seni duduk bersila dalam satu nampan peradaban, menghadirkan kesejukan yang membuktikan bahwa kekuasaan yang beradab adalah kekuasaan yang mencintai kebudayaannya sendiri. [Tim/Red]

Tentang Penulis: MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum