Oleh: Redaksi Madura Expose
Sabana bukan sekadar hamparan lanskap; ia adalah sebuah teater eksistensi di mana keindahan dan kekejaman berkelindan dalam satu napas. Secara terminologi, sabana merepresentasikan padang rumput tropis yang membentang luas di wilayah tropis dan subtropis, merajut cakrawala di seluruh penjuru bumi. Dari keangkuhan Serengeti di Afrika hingga hamparan emas di Australia, dari rimbunnya vegetasi di Brasil dan Venezuela hingga eksotisme India serta Thailand.
Di pangkuan pertiwi, Indonesia pun memiliki permata serupa. Lihatlah Sumba Timur yang legendaris, atau Taman Nasional Baluran di Jawa Timur yang kerap dijuluki sebagai Little Africa. Tak ketinggalan, lanskap purba di Kepulauan Komodo serta elevasi dingin di Gunung Prau dan Argopuro turut menyumbang noktah indah dalam peta ekosistem sabana nusantara.
Anatomi Keindahan yang Kontradiktif
Secara visual, sabana adalah kemegahan. Ia didominasi oleh rerumputan yang bergoyang mengikuti irama angin, dengan pohon-pohon yang tumbuh sporadis seolah menjadi saksi bisu atas suhu hangat yang menyelimuti sepanjang tahun. Di Afrika, ia menjadi hunian bagi para “Aristokrat Rimba”—zebra yang lincah, gajah yang bijak, hingga singa yang menjadi manifestasi kekuasaan alam.
Namun, di balik estetika visual yang menghipnotis itu, tersimpan siklus alam yang destruktif: Musim Kemarau Panjang.
Krisis Akut: Pertaruhan Hidup di Atas Tanah Retak
Saat sang surya meraja tanpa ampun, sabana bertransformasi menjadi panggung tragedi. Kemarau yang gigih memicu krisis air akut, menciptakan sebuah distopia di mana manusia dan satwa terpaksa masuk ke dalam arena perebutan sumber daya yang terbatas. Sungai-sungai mengering, sumur-sumur bungkam, dan danau berubah menjadi padang debu.
Situasi ini bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan ancaman eksistensial yang nyata:
-
Kelangkaan Air yang Absurd: Air permukaan dan air tanah mengalami deplesi drastis, mengubah air bersih menjadi komoditas yang lebih berharga daripada emas.
-
Konflik dan Antrean Panjang: Keterbatasan akses memicu ketegangan sosial. Manusia harus memikul bejana dari jarak yang tak masuk akal atau merogoh kocek dalam-dalam demi seteguk air, sementara ternak-ternak mati dalam kesunyian akibat dehidrasi ekstrem.
-
Dampak Multisektoral: Gagal panen menghantui para petani, risiko kebakaran hutan mengintai setiap detik, dan polusi udara meningkat seiring debu yang beterbangan bebas.
Dilema Adaptasi dan Tanggung Jawab Kolektif
Krisis ini berakar dari kombinasi kejam antara anomali curah hujan dan degradasi kawasan tangkapan air akibat eksploitasi yang melampaui batas. Masyarakat dipaksa melakukan adaptasi ekstrem demi bertahan hidup di tengah kepungan kekeringan yang mencekik.
Pada akhirnya, sabana mengajarkan kita sebuah filosofi pahit: bahwa keindahan yang paripurna sekalipun akan runtuh tanpa kedaulatan air. Kemarau di padang sabana adalah alarm keras bagi peradaban—bahwa alam memiliki titik jenuh, dan krisis air adalah hukuman bagi mereka yang abai terhadap kelestarian lingkungan.








