SUMENEP – Gema perlawanan pecah di jalanan Kota Sumenep. Aliansi Masyarakat Sumenep (AMS) melakukan aksi massa besar-besaran dengan mendatangi dua titik sentral kekuatan politik: Kantor Sekretariat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Kantor Sekretariat Partai Golongan Karya (Golkar), Senin (12/1/2026).
Kedatangan massa bukan sekadar bertamu, melainkan membawa tuntutan keras untuk menghentikan wacana elitis yang mengancam kedaulatan rakyat. Gedung-gedung partai tersebut menjadi saksi bisu kemarahan para pemuda dan mahasiswa yang mencium aroma busuk upaya pengembalian pemilihan kepala daerah ke tangan DPRD.
Menagih Komitmen Partai Politik
Sasaran aksi di markas PKB dan Golkar bukanlah tanpa alasan. AMS menuntut partai-partai besar ini untuk berhenti bermain-main dengan hak konstitusional warga negara. Dalam orasi agitatifnya di depan pagar kantor partai, massa mendesak pimpinan partai di tingkat daerah (DPC) untuk bersuara lantang ke pusat demi menolak mekanisme Pilkada tidak langsung.
“Jangan biarkan suara rakyat disekap di dalam ruang parlemen! Kedaulatan adalah milik kita, bukan milik segelintir elite di meja makan kekuasaan!” teriak salah satu orator di tengah pengawalan ketat aparat.
Polisi Siaga di Titik Strategis
Merespons gelombang massa, Polres Sumenep mengerahkan personel secara masif di titik-titik strategis untuk memastikan “suhu” unjuk rasa tetap terkendali. Meski suasana memanas oleh orasi-orasi pembakar semangat, pihak kepolisian tetap mengedepankan pendekatan persuasif di depan pintu masuk sekretariat partai.
Plt. Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti Sutyoningtyas, mengonfirmasi bahwa massa menyampaikan aspirasi secara terbuka melalui orasi-orasi tajam tepat di depan kantor partai yang dituju. “Massa menyampaikan aspirasi secara terbuka melalui orasi-orasi di depan kantor sekretariat partai yang dituju, dengan pengawalan ketat,” jelasnya.
Aksi ini menjadi peringatan keras bagi PKB dan Golkar di Sumenep: jika suara rakyat diabaikan di tingkat nasional, maka gelombang perlawanan di daerah akan semakin besar. Mahasiswa dan elemen masyarakat telah menegaskan bahwa mereka siap berdiri di barisan terdepan untuk menghalangi kembalinya era demokrasi semu di mana rakyat hanya menjadi penonton dalam memilih pemimpinnya sendiri.








