
SUMENEP– Di tengah hiruk pikuk Jakarta, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, memilih pulang. Bukan untuk kampanye, melainkan untuk kembali ke rumah spiritualnya, Pondok Pesantren Al-Amin, Prenduan, Sumenep. Kunjungannya ini bukan hanya agenda seremonial, tetapi sebuah pengakuan filosofis bahwa fondasi karakternya sebagai wakil rakyat dibentuk di balik dinding pesantren.
Menginjakkan kaki di auditorium Ponpes Al-Amin, Ansari, yang merupakan legislator Dapil Madura, mengaku serasa kembali ke masa lalu. Ia pernah menempuh pendidikan selama tiga tahun yang membentuk dirinya, sebelum akhirnya berkiprah di Senayan.
Grogi di Depan Guru, Menegaskan Adab di Atas Segala
Kunjungan Ansari kali ini adalah sebagai pembicara dalam Forum Program Peningkatan Mutu Pendidikan Islam yang digagas oleh Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI bersama UIN Madura. Namun, ada momen yang disebutnya mengharukan sekaligus menegangkan.
“Jujur saat pertama kali masuk ke auditorium, saya kaget, karena ternyata banyak pesertanya yang merupakan para guru saya waktu di pesantren. Ya cukup grogi dan sungkan waktu ngisi materi di sini,” ujar Ansari sambil tersenyum, belum lama ini.
Reaksi “grogi” dan “sungkan” ini, bagi seorang politisi berintegritas, adalah cerminan dari filsafat politik berbasis adab yang ditanamkan pesantren. Bahwa setinggi apa pun jabatan dan setebal apa pun kekuasaan, posisi guru tetap berada di atas segalanya.
Dalam materinya yang bertema Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren, Ansari menegaskan bahwa peran para guru sangat besar dalam perjalanan hidup dan karier setiap santri.
Amanah Politik dan Doa Para Kiai
Alih-alih fokus pada pencapaian politik semata, Ansari memilih menggunakan forum ini sebagai panggung pengembalian moral.
“Yang paling penting dari materi ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada para guru yang selama ini mendidik dan membimbing saya, sebab berkat jasa-jasa beliaulah saya bisa menjadi seperti ini,” jelasnya.
Titik puncak dari pesan politiknya adalah permohonan doa. Politisi ini tidak meminta dukungan politik, melainkan memohon doa khusus dari guru-gurunya agar ia dapat menjalankan amanah sebagai anggota DPR RI dengan baik.
Dalam filsafat politik pesantren, konsep Amanah jauh melampaui sekadar janji kampanye; ia adalah ikatan suci (mitasāqan ghalīzhā) antara pemimpin dan rakyat, yang pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Tuhan. Dengan memohon doa dari guru-guru agamanya, Ansari menegaskan bahwa tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat harus selaras dengan nilai-nilai spiritual yang ia yakini.
Bukti Nyata Suksesnya Pendidikan Karakter
Reaksi bangga datang dari salah satu guru Ansari, Awiyani, yang hadir dalam forum tersebut.
“Saya sangat senang dan bangga melihat salah satu siswa kami sukses seperti Mbak Ansari. Bisa menjadi anggota DPR RI perwakilan Madura. Kami doakan semoga tugasnya lancar dan selalu sukses,” ujarnya.
Kesuksesan Hj. Ansari menjadi anggota DPR RI adalah bukti nyata bahwa lembaga pendidikan Islam tradisional seperti Ponpes Al-Amin mampu mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki fondasi karakter, adab, dan integritas yang kuat—sebuah investasi peradaban yang tak ternilai harganya.***


