MaduraExpose.com – Di panggung megah Graha Pena Surabaya, Selasa (16/9/2025) malam, sebuah narasi besar tentang kekuasaan baru saja ditulis ulang. Nia Kurnia Fauzi, srikandi dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep, tidak sekadar menerima trofi Legislatif Jatim Awards 2025. Ia tengah memanen buah dari benih-benih harapan yang ia tanam di palung hati masyarakat.
Politik sebagai Puisi Tindakan
Dalam diskursus filsafat politik, kita sering mendengar tentang Vita Activa—sebuah konsep dari Hannah Arendt yang menyatakan bahwa kemuliaan manusia terletak pada tindakannya di ruang publik. Bagi Nia Kurnia, politik bukanlah rimba perebutan kuasa yang gersang, melainkan sebuah “Simfoni Pengabdian”. Setiap kebijakan yang ia lahirkan adalah nada, dan setiap rintihan rakyat adalah partitur yang harus ia susun menjadi harmoni kesejahteraan.
Penghargaan sebagai Legislator Kabupaten Terbaik se-Jawa Timur ini bukan datang dari ruang hampa. Ia adalah resonansi dari langkah nyata: tentang beasiswa yang menyalakan pelita di mata mahasiswa kurang mampu, tentang ambulans yang membelah sunyi demi nyawa yang bertaruh, dan tentang jemari lembut yang merangkul UMKM serta memerangi stunting.
Estetika Kolaborasi dan Kerendahan Hati
Secara filosofis, Nia memahami bahwa pemimpin bukanlah matahari yang berdiri sendiri, melainkan cahaya yang terpantul dari kebersamaan. Dengan nada puitis, ia menegaskan bahwa prestasi ini adalah kerja kolektif antara legislatif dan eksekutif Kabupaten Sumenep.
“Alhamdulillah, capaian ini adalah buah dari pohon kebersamaan. Kami di DPRD Sumenep saling menguatkan, memastikan bahwa setiap ketukan palu adalah detak jantung kepentingan rakyat,” tuturnya dengan penuh ketulusan usai menerima penghargaan dari JTV.
Di sini, Nia mempraktikkan filsafat Power with (kekuasaan bersama) alih-alih Power over (kekuasaan atas). Ia memposisikan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan aspirasi akar rumput dengan meja birokrasi yang dingin.
Menenun Masa Depan dari Dapil 1
Bagi masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Sumenep, penghargaan ini adalah validasi atas pilihan mereka. Nia Kurnia telah membuktikan bahwa politik bisa memiliki wajah yang anggun namun tangguh, sastrawi namun pragmatis.
Penghargaan ini bukanlah titik henti, melainkan bahan bakar baru. Di matanya, kristal penghargaan itu memantulkan wajah-wajah rakyat yang masih harus diperjuangkan. Ia pulang ke Sumenep tidak membawa kesombongan, melainkan membawa janji yang lebih besar: bahwa khidmatnya akan terus mengalir layaknya arus sungai yang tak pernah lelah menuju samudra pengabdian.
“Penghargaan ini adalah pengingat,” pungkasnya. “Bahwa di atas takhta jabatan, ada amanah yang harus dijaga dengan cinta.”
[*]






