SUMENEP, MADURA – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banaresep Timur I di Kecamatan Lenteng, Sumenep, pada awal tahun 2017 sempat menjadi panggung drama yang mempertontonkan loyalitas luar biasa antara wali murid dan seorang kepala sekolah.
Kisah ini bukan sekadar protes biasa terhadap kebijakan birokrasi, melainkan sebuah pertarungan emosional antara kebaikan seorang pendidik melawan kebijakan mutasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.
Senin, 20 Maret 2017, puluhan ibu-ibu yang mewakili wali murid datang dengan satu suara yang lantang dan tegas: Kepala Sekolah Akh Zaini tidak boleh dipindah!
Ancaman yang mereka layangkan sangat serius: Jika Bapak Akh Zaini benar-benar diganti atau dimutasi, mereka siap beramai-ramai mencabut anak-anak mereka dari SDN Banaresep Timur I dan memindahkan mereka ke sekolah lain. Sekolah pelat merah yang baru saja bangkit itu pun terancam kehilangan siswanya.
Air Mata dan Loyalitas yang Melampaui Batas
Nyonya Hj. Alvia, salah satu wali siswa, menjadi juru bicara yang paling vokal dan emosional. Ia tidak hanya menyuarakan kekecewaan, tapi juga menegaskan tekad yang melampaui logika birokrasi.
“Secara hormat dan tegas saya minta Kepala Sekolah di sini jangan dipindah,” kata Hj. Alvia dengan nada berapi-api. “Tetap kami kejar, meskipun Pak Zaini dipindah ke Pakong. Tetap saya kejar ke Pakong!”
Ungkapan ini menunjukkan betapa dalamnya ikatan yang terbentuk. Keputusan ini bukan didasarkan pada politik atau uang, melainkan pada kualitas pendidikan dan perubahan nyata yang dibawa oleh Akh Zaini. Sejak kepemimpinannya, semangat belajar siswa diklaim meningkat drastis.
“Anak saya menangis. Mereka tidak rela jika kepala sekolahnya dipindah,” ungkap Hj. Alvia, merujuk pada dampak emosional langsung pada anak-anak.
Ancaman itu dibuktikan dengan fakta lapangan. Wali murid mengklaim sejumlah siswa sengaja tidak masuk sekolah pada hari itu sebagai bentuk protes. Padahal, di bawah kepemimpinan Zaini, jumlah siswa di sekolah itu melonjak dari hanya sekitar 80-an menjadi 102 siswa. Angka ini adalah bukti konkret kepercayaan masyarakat yang terancam runtuh hanya karena selembar surat keputusan mutasi.
Kepala Sekolah: Patuh Aturan, Bingung dengan Protes
Di tengah pusaran protes dramatis ini, Kepala SDN Banaresep Timur I, Akh Zaini, bersikap tenang namun tertekan. Ia mengaku tidak tahu menahu tentang aksi mogok sekolah yang dilakukan siswanya.
“Saya telah instruksikan kepada semua siswa untuk tetap masuk pada hari ini. Tapi kenapa tidak masuk, kami tidak tahu,” ujar Zaini, yang baru mengetahui keputusan mutasinya pada Jumat pekan sebelumnya dan tidak sempat mensosialisasikannya.
Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), Zaini menegaskan bahwa dirinya harus menerima dan menjalankan keputusan yang telah ditetapkan oleh Bupati, meskipun secara pribadi ia tidak mengharapkan perpindahan.
“Ya, kalau mereka mau protes, jangan protes sama saya, karena saya tidak tahu. Hanya saya sebagai ASN, ya harus patuh terhadap aturan,” jelasnya, sebuah pernyataan yang menunjukkan dilema antara loyalitas profesional dan ikatan batin dengan masyarakat.
Ke mana Disdik Sumenep?
Saat drama ini mencapai puncaknya, sorotan beralih ke pihak yang paling bertanggung jawab atas kebijakan mutasi: Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep.
Sayangnya, Kepala Disdik Sumenep, A Shadik, saat itu tidak dapat dimintai konfirmasi. Ia tidak berada di kantornya, dan saat dihubungi melalui telepon selulernya, nomornya dalam kondisi tidak aktif.
Ketiadaan pihak berwenang untuk memberikan penjelasan di tengah krisis ini justru menambah keruh suasana dan memperkuat ketidakpuasan publik terhadap keputusan birokrasi yang dianggap tidak mempertimbangkan aspek kualitatif dan dampaknya di lapangan.
Kisah di SDN Banaresep Timur I ini menjadi pengingat kritis bagi Pemkab Sumenep dan seluruh pemangku kebijakan pendidikan: Mutasi dan kebijakan birokrasi harus dilakukan dengan hati-hati.
Kualitas seorang pemimpin sekolah dan ikatan emosionalnya dengan komunitas tidak dapat diukur hanya dengan aturan administrasi, dan mengabaikan hal itu berisiko mengancam keberlangsungan lembaga pendidikan itu sendiri.
Semoga peristiwa seperti pemindahan kepala sekolah yang berprestasi dan dicintai masyarakat tanpa solusi bijak tidak terulang lagi di Kabupaten Sumenep. [kom/jun/gim/fer]








