maduraexpose.com

 

Radar Pemkab

Krisis di Titik Terpencil: BBM Hilang, Laut Dirusak, Pelayanan Publik Lumpuh di Masalembu

503
×

Krisis di Titik Terpencil: BBM Hilang, Laut Dirusak, Pelayanan Publik Lumpuh di Masalembu

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Apel keberangkatan menuju Pulau Masalembu, dalam rangka kunjungan kerja dilaksanakan dan dipimpin langsung Bupati Sumenep, A Busyro Karim, di Pelabuhan III Kalianget, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Jum’at (15/11/2019).

Kepulauan Masalembu, yang terisolasi di Laut Jawa dan secara administratif masuk wilayah Sumenep, Madura, tengah menghadapi tekanan berlapis yang mengancam eksistensi nelayan tradisional dan kesejahteraan masyarakatnya.

 

Keluhan utama penduduk Masalembu bukan hanya sebatas masalah teknis, melainkan gabungan dari perebutan wilayah laut yang agresif dan kesulitan fundamental dalam pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga pelayanan publik.

 

 

Ancaman di Laut: Perebutan Area Tangkap dan Kerusakan Ekosistem

 

Isu paling mendesak yang dihadapi nelayan tradisional Masalembu adalah ancaman terhadap mata pencaharian mereka. Perairan yang seharusnya menjadi ladang hidup mereka kini dikuasai oleh kekuatan luar.

 

 

Kapal Besar dan Praktik Penangkapan Merusak

 

Nelayan lokal berulang kali mengeluhkan serbuan kapal-kapal besar dari luar daerah, seperti Madura, Kalimantan, dan Jawa, yang secara ilegal memasuki area tangkap tradisional mereka. Situasi ini diperparah dengan penggunaan alat tangkap yang merusak ekosistem laut, terutama cantrang.

 

 

Cantrang, yang telah dilarang namun masih sering digunakan, secara efektif “menyapu bersih” dasar laut, merusak terumbu karang, dan mengurangi populasi ikan secara drastis.

 

Akibatnya, hasil tangkapan nelayan tradisional menurun tajam, mengancam keberlanjutan hidup mereka. Selain itu, perairan Masalembu juga dihantui oleh praktik ilegal yang lebih ekstrem, yakni penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan, sebuah tindakan yang merusak lingkungan laut secara permanen.

 

 

Krisis Kebutuhan Dasar: Kelangkaan BBM dan Akses Pangan

 

Di darat, masyarakat Masalembu harus bergulat dengan masalah logistik dan kebutuhan primer.

 

Kelangkaan dan Penyalahgunaan BBM Subsidi

Masyarakat dan, yang terpenting, nelayan sering dihadapkan pada kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Ironisnya, kelangkaan ini sering memuncak saat musim ikan tiba, yakni saat nelayan paling membutuhkan bahan bakar untuk melaut. Kondisi ini menyebabkan harga solar melambung tinggi, mencekik biaya operasional nelayan.

 

 

Kondisi kelangkaan ini diduga diperburuk oleh adanya penyalahgunaan BBM subsidi. Terdapat indikasi bahwa oknum menjual BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi nelayan lokal ke kapal-kapal besar atau pihak luar yang berani membayar lebih, sehingga stok untuk masyarakat Masalembu sendiri menjadi defisit.

 

 

Isu Pelayanan Publik dan Kebutuhan Lain

 

Isolasi geografis Masalembu juga memicu masalah mendasar lainnya. Kepulauan ini pernah dilanda krisis pangan ketika cuaca ekstrem melanda, menghambat kapal logistik untuk bersandar dan menyebabkan pasokan makanan terhenti.

 

 

Selain itu, akses terhadap pelayanan publik juga disorot. Masyarakat sempat dihebohkan oleh video viral yang menunjukkan Puskesmas kosong pada jam tertentu di sore hari, bukan karena tidak ada tenaga kesehatan, melainkan karena jam pelayanan poli telah berakhir. Hal ini mencerminkan minimnya akses dan ketersediaan layanan kesehatan yang fleksibel bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.

 

 

Upaya dan Solusi yang Mendesak

 

Untuk mengatasi krisis berlapis ini, beberapa langkah tegas telah didesak dan diupayakan oleh masyarakat, organisasi sipil, dan pemerintah daerah:

 

  1. Penegakan Hukum di Laut: Nelayan dan aktivis mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk menindak tegas kapal-kapal cantrang dan menetapkan perairan Masalembu sebagai zona tangkap eksklusif bagi nelayan tradisional.
  2. Pembentukan Pos Keamanan Terpadu: Diusulkan pembentukan Pos Keamanan Laut yang melibatkan sinergi antara Polair, TNI AL, dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk melakukan patroli rutin dan penegakan hukum terhadap praktik penangkapan ikan ilegal.
  3. Jaminan Pasokan BBM: Untuk mengatasi kelangkaan solar, pihak terkait diminta untuk melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina guna menjamin pasokan BBM subsidi yang memadai dan tepat sasaran bagi nelayan Masalembu.

 

 

Masalah Masalembu adalah cerminan kompleksitas pengelolaan sumber daya maritim di Indonesia. Dibutuhkan intervensi yang kuat dari pemerintah pusat untuk tidak hanya mengatasi kelangkaan BBM dan isu pelayanan publik, tetapi juga untuk melindungi hak-hak nelayan tradisional dari praktik ilegal yang merusak lingkungan dan mata pencaharian mereka. [dbs/gim]

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----