Maduraexpose.com- Hari ini merupakan hari terakhir menikmati perjalanan kalender 2023. Sebentar lagi, dalam hitungan jam, semua orang akan menjemput kehangatan tahun baru. Dan mungkin saja, malam ini sudah siap dengan terompet dan cara bakar-bakar ikan dan seterusnya.
Terkait perayaan malam tahun baru masehi ini, Redaksi menemukan sebuah tulisan lawas yang dipublikasikan pada tanggal 31 Desember 2018 dalam bentuk opini.
Opini tersebut ditulis oleh Suherman Syach, Direktur RED Institute dan Civitas Akademika IAIN Parepare dan diunggah oleh pijarnews.com, berikut tulisan lengkapnya yang dilansir Maduraexpose.com, Ahad 31 Desember 2023 malam.
OPINI: Sambut Tahun Baru, Bukan dengan Maksiat dan Hedonisme
oleh Suherman Syach, Direktur RED Institute dan Civitas Akademika IAIN Parepare
Dalam tradisi klasik, bangsa-bangsa Yahudi, Majusi dan Nasrani menyambut tahun baru dengan melakukan ritual ibadah dan juga pesta pora.
Dari beberapa referensi menyebutkan kerajaan Babilonia merupakan bangsa pertama yang merayakan tahun baru. Bagi mereka, tahun baru ini adalah kemenangan Dewa Langit Marduk melawan Dewi Laut yang jahat, Tiamat. Raja Babilonia menerima mahkota baru.
Dalam penanggalan tahun masehi, kerajaan Romawi dikenal sebagai pencetus pertama penanggalan dan pergantian tahun dengan siklus matahari. Mereka menamai bulan pertama dengan nama Janus, dewa Romawi, yang memiliki dua muka untuk memandang ke depan dan belakang.
Bangsa Romawi memperingati tahun baru dengan berbagai pengorbanan kepada Janus, bertukar hadiah, mendekorasi rumah, dan mengunjungi beberapa pesta.
Bangsa Mesir menandai pergantian tahun dengan melihat banjir sungai Nil. Perhitungan ini bersamaan dengan munculnya bintang Sirius. Sedangkan Cina menentukan tahun baru pada bulan baru kedua saat titik balik Matahari setelah musim gugur.
Pada abad pertengahan, Paus Gregory XIII pada 1582 merubah dan menetapan 1 Januari sebagai tahun baru Masehi. Kekuasaan Kekristenan Eropa memberi makna religius di sekitar pergantian tahun seperti 25 Desember sebagai Hari Natal dan antara 22 dan 25 Maret sebagai perayaan Paskah, seperti yang dirayakan umat Nasrani hingga hari ini.
Dari rangkaian sejarah singkat di atas, ditarik kesimpulan bahwa perayaan tahun baru Masehi disambut dengan berbagai tradisi ritual yang berdimensi religiusitas dan budaya, yang tentu saja mengandung nilai-nilai kesakralan.
Bagaimana tahun kekinian? Nampaknya perayaan tahun baru masehi telah bergeser dan tercerabut dari nilai-nilai religi yang sakral. Bangsa-bangsa modern tetap menyambut awal tahun, tapi dengan nuansa hedonistik dan bahkan bermaksiat, jauh dari nilai religius semua agama-agama.
Bangsa-bangsa kekinian memperingatinya tanpa nilai. Mereka sekedar berhura ria, berkumpul, berpesta, penuh kesenangan. Celakanya, sebagian generasi merayakannya dengan pesta kemaksiatan, misalnya mabuk bersama atau bahkan zina.
Hendaknya para agamawan mengembalikan sakralitas tahun baru dengan nilai-nilai agama. Dari rilis Prof. H. Nasir Mahmud, guru besar UINAM via media sosial mengemukakan beberapa tradisi agama-agama terdahulu. Menurut beliau membunyikan terompet adalah tradisi agama Yahudi, sebagai panggilan beribadah, mungkin semacam azan dalam Islam.
Beliau juga mengutip Perjanjian Lama, Kitab Imamat 23;24 dikatakan: “Katakanlah kepada orang-orang Isra’el, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari cuti penuh yang diperingati dengan meniup terompet, yakni hari pertemuan kudus” (Imamat 23:24).
Beliau juga menuliskan riwayat petasan sebagai tradisi masyarakat Tiongkok/Cina. Tujuan menciptakan petasan dalam masyarakat Tiongkok/Cina adalah untuk mengusir roh jahat. Dentuman yang keras tidak disenangi para roh jahat, dan dentuman berkali-kali disertai sinar berwarna membuat roh jahat lari terbirit-birit.
Dalam perayaan tahun baru, terompet dan petasan menjadi alat populer di kalangan penyambut awal tahun pada semua kalangan. Tapi sayangnya, alat ritual agama Yahudi, Nasrani atau pun Cina tersebut hanya menjadi penghibur belaka.
Bagi umat Islam, perayaan tahun baru masehi kontroversial. Tidak ditemukan keterangan dalam dalil naqli, baik Al-Quran maupun hadis dan keterangan sahabat. Meski demikian, umat Islam seluruh dunia ikut bereuforia pergantian tahun baru masehi.
Bolehkah umat Islam merayakannya? Allahu ‘alam, tidak ada keterangan yang jelas atas keharaman dan kehalalannya. Para ulama lebih mengharamkan dengan dalih menyerupai kaum Yahudi atau Nasrani yang menyambut tahun baru masehi dengan ritual agama mereka. Sebagian ulama lainnya, mengharamkan perayaan tahun baru masehi yang berbau maksiat dan hura-hura.
Bagi umat Islam di Indonesia, khususnya dari kalangan Nahdiyyin mulai mentradisikan budaya baru dengan menyambut tahun baru dengan berbagai kegiatan keagamaan. Misalnya menggelar pengajian, diskusi, zikiran atau istighozah. Tradisi baru Nahdiyyin ini harus dijalarkan ke segenap umat Islam, bukan saja di Indonesia tetapi seluruh dunia.
Langkah umat Islam di Indonesia patut diapresiasi. Meski tidak ada keterangan dalil tentang perayaan tahun baru, tetapi dengan mengisinya dengan kegiatan bernuansa Islami akan menggeser budaya hedonis yang mulai melekat dalam tahun baru masehi.
Ciptakan perayaan tahun masehi dengan tradisi keagamaan agar masyarakat tidak terjebak pada perilaku maksiat. Hal itu jauh lebih baik daripada meributkan halal haramnya, sementara hedonistik dan maksiat tak terhalangi.
Bagaimana pun, tahun masehi merupakan sistem penanggalan yang berlaku universal dan digunakan umat Islam seluruh dunia. Keberadaannya sama dengan penanggalan tahun Hijriyah yang ditetapkan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.
Tahun masehi didasarkan pada putaran matahari (syamsiyyah) sementara tahun hijriyah berdasarkan bulan (qamariyah). Kedua penanggalan ini tetap relevan dengan ketetapan Allah Swt tentang masa yaitu 12 bulan, baca QS. At Taubah ayat 36. Allahu a’lam bissawab.***







