BANGKALAN – Di saat badai konflik internal melanda tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), para Rais Syuriyah dan Tanfidziyah dari PCNU se-Madura Raya memilih jalan spiritual dan adab (etika) tertinggi. Mereka tidak berdemostrasi, melainkan bertawassul (mencari perantara) dan tabarukan (mencari keberkahan) di dhalem kasepuhan (kediaman leluhur) Syaikhona Muhammad Kholil (Mbah Kholil), Bangkalan.
Pertemuan khidmat yang digelar menjelang tengah malam, Selasa (2/12/2025), ini menegaskan bahwa dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), solusi struktural harus didahului oleh munajat dan ketaatan kepada sanad (rantai keilmuan dan spiritual).
Dari pelataran kediaman Muassis (pendiri/inisiator) NU itu, PCNU Madura Raya merilis tiga poin pernyataan sikap yang merupakan manifes istiqamah (keteguhan) Nahdliyyin dalam menghadapi krisis organisasi. Tiga poin ini, yang disampaikan oleh Wakil Rais Syuriyah PCNU Bangkalan, KH Syafik A Rofii, menjadi panduan ukhuwah dan ketenangan bagi jama’ah se-Madura Raya.
🕌 Titik Nol Sanad: Mengetuk Hati Lewat Barokah Mbah Kholil
Pemilihan lokasi di dhalem kasepuhan Syaikhona Kholil, yang dikenal sebagai wali dan inisiator berdirinya NU, adalah tindakan yang sangat simbolis dan esensial dalam tradisi Aswaja.
Sebagaimana diungkapkan Kiai Syafik, langkah ini diambil untuk mengetuk hati para pengurus PBNU yang tengah berselisih. Tabarukan di tempat ini dipahami sebagai upaya mencari tetapnya kebaikan dari Allah SWT, sekaligus memohon hidayah (petunjuk) dan barokah (keberkahan) spiritual dari Muassis agar perselisihan segera mencapai solusi terbaik.
Tindakan ini mencerminkan prinsip Tawassuth (moderasi) NU, di mana konflik disikapi bukan dengan manuver politik terbuka, tetapi dengan mengutamakan kesabaran, kerendahan hati, dan pengembalian diri kepada sanad keilmuan. Para kiai Madura Raya menunjukkan bahwa krisis organisasi harus diatasi dengan spiritualitas, sebelum diselesaikan secara hukum AD/ART.
👑 Otoritas Syuriyah: Prinsip Sami’na Wa Atho’na
Poin krusial kedua dalam pernyataan sikap tersebut adalah: Memasrahkan sepenuhnya penyelesaian konflik kepada alim ulama selaku pemegang otoritas tertinggi di NU.
Pernyataan ini adalah penegasan kembali ketaatan pada struktur baku NU. Dalam organisasi ini, Syuriyah (dewan ulama) adalah pemegang otoritas yang menentukan kebijakan keagamaan dan konstitusional. Sementara Tanfidziyah (badan pelaksana), seperti yang diungkapkan Sekretaris PCNU Bangkalan, KH Dimyati Muhammad, adalah pihak yang secara hierarki harus patuh (sami’na wa atho’na – kami mendengar dan kami taat) pada kebijakan Syuriyah.
“Syuriyah adalah otoritas tertinggi di NU, karena tanfidziyah hanya pelaksana yang semua kebijakannya mengikuti dari kebijakan syuriyah sehingga kami mengikuti apapun yang diminta syuriyah,” ungkap Kiai Dimyati dikutip dari TribunNews, Kamis 4 Desember 2025/ .
Dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Syuriyah (termasuk Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA), PCNU Madura Raya menunjukkan sikap Tawazun (keseimbangan) yang menolak intervensi pihak luar sekaligus menghindari fragmentasi internal. Konflik, termasuk pemakzulan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, diserahkan pada mekanisme musyawarah ulama yang diyakini paling adil dan bijaksana.
🤲 Ukhuwah dan Munajat: Tuntunan Ketenangan Bagi Jama’ah
Poin terakhir dari pernyataan sikap ini adalah panggilan jiwa bagi seluruh Nahdliyin se-Indonesia: tetap tenang, mempererat ukhuwah nahdliyyah, dan memperbanyak munajat kepada Allah SWT.
Panggilan ini adalah cara Aswaja mengelola gejolak massa. KH Syafik A Rofii mengingatkan bahwa kelambanan penyelesaian konflik PBNU tidak hanya merugikan warga NU, tetapi juga Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, jama’ah diminta untuk tidak terpancing emosi, tetapi menjadikan munajat (doa dan permohonan sungguh-sungguh) sebagai jalan keluar.
Tuntutan munajat adalah praktik tawakkal (berserah diri) dan solidaritas (ukhuwah) yang harus diprioritaskan. Selama Syuriyah bekerja, jama’ah wajib menjaga ketenangan dan persatuan, meyakini bahwa solusi yang dihasilkan akan menjadi yang “terbaik menurut PBNU, menurut warga NU, dan menurut bangsa Indonesia.”
Dengan langkah spiritual di Dhalem Kasepuhan Mbah Kholil, PCNU Madura Raya telah memberikan pelajaran berharga: krisis organisasi diselesaikan dengan Adab, Ilmu, dan Ketaatan Hierarki, yang merupakan ruh sejati dari Nahdlatul Ulama. [trb/dbs/gim]








