Sebuah Kisah Nyata: Anggota DPRD Sumenep yang Berani Lawan Arus

Terbit: 7 September 2025 | 10:42 WIB

MaduraExpose.com- Di tengah hiruk pikuk politik yang sering kali dipenuhi janji kosong dan kepentingan tersembunyi, kisah ini terasa seperti oase di padang pasir.

 

Kisah tentang Raud Faiq Jakfar, seorang anggota DPRD Kabupaten Sumenep yang menolak tunduk pada praktik kotor dan berani melawan arus demi rakyatnya.

 

 

Tahun 2006, saat proyek pembangunan Tangkis Laut di Pelabuhan Bintaro, Desa Longos, Kecamatan Gapura, dimulai, banyak kekhawatiran yang beredar.

 

Proyek senilai lebih dari Rp400 juta itu dimenangkan oleh rekanan yang menawarkan harga sangat rendah, lebih dari 20% di bawah pagu. Sebuah tawaran yang terlalu menggiurkan, dan sering kali, menjadi pertanda buruk.

 

 

Ketika Keserakahan Merusak Fondasi
Dugaan itu terbukti. Faiq, yang saat itu menjabat anggota Komisi C DPRD, tidak tinggal diam. Ia turun langsung ke lapangan, memantau setiap detail pekerjaan dengan mata seorang pengawas yang teliti. Apa yang ia temukan sungguh mengejutkan sekaligus memilukan.

 

 

Alih-alih menggunakan mesin molen untuk mengaduk adukan semen, pekerja proyek hanya menggunakan tenaga manusia. Campuran pasir yang seharusnya menggunakan pasir tawar, diganti dengan pasir laut yang gampang didapat.

 

Bahkan, air untuk campuran pun menggunakan air asin! Praktik-praktik ini bukan sekadar efisiensi, tetapi sebuah tindakan yang disengaja untuk memangkas biaya demi keuntungan pribadi, mengorbankan kualitas dan daya tahan proyek yang seharusnya melindungi masyarakat pesisir.

 

 

Perlawanan Seorang Pejuang

Faiq tidak ragu untuk berbicara. Ia dengan lantang membeberkan semua kecurangan itu ke publik, menekan pihak terkait untuk mengambil tindakan.

 

Berkat desakannya, Kepala Dinas PU Pengairan saat itu, Ir. H. Moh. Jakfar, MM., turun tangan dan mengakui temuan Faiq. “Pihaknya telah memberikan tindakan preventif terhadap rekanan bersangkutan untuk menghentikan pekerjaan proyek selama tidak menyediakan material dan peralatan sesuai dengan bestek,” ujar Jakfar, membenarkan temuan berani dari Faiq.

 

 

Kisah Raud Faiq Jakfar adalah cermin dari sosok wakil rakyat yang sudah langka. Ia bukan sekadar politisi yang duduk manis di balik meja, tetapi seorang pejuang rakyat yang berani mengambil resiko untuk memastikan uang negara tidak disalahgunakan dan pembangunan yang dilakukan benar-benar bermanfaat. Ia adalah pengingat bahwa di balik sistem yang korup, masih ada orang-orang jujur yang rela berkorban demi kebenaran.

 

Sang Pejuang Abadi: Mengenang Raud Faiq Jakfar, Politisi yang Nyaris Tak Tergantikan

 

Di balik kisah perjuangan seorang politisi yang berani melawan praktik korupsi, tersimpan sebuah ironi takdir yang mengharukan. Sosok H. A. Raud Faiq Jakfar, anggota DPRD Sumenep yang terkenal berani dan jujur, harus berpulang ke Rahmatullah pada 3 April 2017.

Kabar duka ini tidak hanya menyelimuti keluarga dan kerabat, tetapi juga para politisi dan aktivis di seluruh Sumenep.

 

 

Kisah meninggalnya Faiq menjadi viral. Banyak yang tak percaya, karena politisi senior berusia 75 tahun ini hanya berselang beberapa hari dari momen penting dalam karier politiknya.

 

Ia seharusnya akan dilantik sebagai anggota Pergantian Antar Waktu (PAW) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 10 April 2017, menggantikan politisi sebelumnya yang juga telah meninggal dunia.

 


 

Perjuangan Panjang di Tengah Dinamika Politik

 

Kepergian Faiq mengakhiri sebuah perjalanan politik yang luar biasa. Kursi yang akan ia duduki memiliki sejarah yang unik dan menyedihkan. Awalnya, kursi tersebut diisi oleh Akhmadi Said, anggota Komisi III DPRD, yang meninggal dunia pada Januari 2016.

 

Kemudian, posisinya digantikan oleh Hj. Noerriyana yang dilantik pada 22 Agustus 2016. Namun, hanya dalam waktu kurang dari setahun, Hj. Noerriyana juga meninggal dunia.

 

 

Dalam sistem PAW, Raud Faiq Jakfar adalah peraih suara terbanyak berikutnya setelah Hj. Noerriyana. Ini seharusnya menjadi babak baru bagi Faiq untuk kembali mengabdi, melanjutkan perjuangan yang telah ia mulai, seperti saat ia berani membongkar kasus proyek fiktif di Pelabuhan Bintaro bertahun-tahun sebelumnya. Namun, takdir berkata lain.

 

 

Sekretaris DPC PPP Sumenep, Sukri, saat itu membenarkan kabar duka tersebut. Ia juga mengakui bahwa surat permohonan pelantikan PAW untuk Faiq sudah berada di tangan Pemprov Jawa Timur.

 

Dengan kepergian Faiq, proses PAW harus kembali berlanjut, dengan nama di bawahnya, Gus Paong (RB Fathorrahman), mantan anggota DPRD dari PBR, yang akan diproses untuk dilantik.


 

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

 

Kepergian Raud Faiq Jakfar menjadi pengingat yang menyakitkan betapa sulitnya menemukan sosok politisi yang memiliki integritas dan keberanian seperti dirinya.

 

Di era ketika banyak politisi tersandung kasus korupsi, sosok Faiq yang rela turun ke lapangan untuk membongkar kecurangan adalah permata yang langka.

 

Ia adalah bukti nyata bahwa kursi kekuasaan bisa menjadi alat untuk membela kebenaran dan keadilan. Meskipun ia telah tiada, warisan dan semangat perjuangannya harus tetap hidup, menginspirasi generasi politisi masa kini dan masa depan.

 

Kisah Faiq Jakfar adalah sebuah legenda, sebuah kisah nyata tentang seorang pejuang abadi yang mengabdi hingga akhir hayat, bahkan di saat takdirnya sendiri sudah dekat.  [*]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sinyal Keras Legislator untuk Bupati

Terbit: 16 April 2026 | 11:23 WIB SUMENEP – Gedung parlemen Sumenep memanas. Sebanyak tujuh fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep secara resmi menyampaikan Pandangan Umum (PU)…

Sekda dan Pimpinan OPD Hadiri Paripurna Prolegda 2026

Terbit: 11 April 2026 | 19:45 WIB SUMENEP, MADURAEXPOSE.COM – Kehadiran jajaran eksekutif yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) serta pimpinan OPD dalam Rapat Paripurna DPRD Sumenep menjadi simbol harmonisasi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *