SUMENEP, Madura Expose — Dinamika politik di Kabupaten Sumenep kembali memanas. Jika di masa lalu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dikenal sebagai penguasa mutlak, hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 menunjukkan pergeseran kekuatan yang mengejutkan.
Dominasi PKB yang telah berlangsung puluhan tahun kini runtuh, disalip oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Ini bukan sekadar perubahan angka, melainkan cerminan dari perubahan peta politik, strategi, dan aspirasi masyarakat.
Era Keemasan yang Memudar
Sejak Pemilu 1999, PKB memiliki pijakan kuat di Sumenep. Berdiri pada 1998, partai ini langsung tancap gas dan berhasil meraih 25 kursi di DPRD Sumenep pada pemilu perdananya. Basis massa Nahdlatul Ulama (NU) yang besar menjadi modal utama PKB untuk mendominasi politik lokal.
Namun, kejayaan itu tidak abadi. Seiring berjalannya waktu, perolehan kursi PKB terus menurun:
- Pemilu 2004: Turun menjadi 18 kursi.
- Pemilu 2009: Kembali menyusut menjadi 14 kursi.
- Pemilu 2014: Stagnan di angka 14 kursi.
Meskipun sempat bangkit di Pemilu 2019 dengan meraih 16 kursi dan menjadikannya pemenang, tren penurunan itu kembali terjadi di 2024. Puncaknya, PKB hanya mampu mengamankan 10 kursi, sebuah angka terendah sejak mereka berdiri.
Kebangkitan PDI-P: Strategi Senyap yang Berhasil
Di sisi lain, PDI-P menunjukkan kebangkitan yang dramatis. Partai ini, yang pada pemilu-pemilu sebelumnya hanya meraih rata-rata 5 kursi, kini berhasil melipatgandakan kekuatannya. Pada Pemilu 2024, PDI-P sukses mengunci 11 kursi di DPRD, menggeser PKB dari takhtanya.
Kenaikan signifikan PDI-P ini bukan kebetulan. Berbagai analisis politik menyebut bahwa soliditas internal, kerja politik yang masif di akar rumput, serta popularitas figur-figur baru di partai menjadi kunci keberhasilan mereka. Kenaikan ini juga menunjukkan bahwa sebagian pemilih tradisional yang sebelumnya loyal ke PKB, kini mulai beralih.
Analisis Pergeseran Politik
Fenomena ini menjadi studi kasus menarik tentang dinamika politik lokal. Beberapa faktor yang dapat menjelaskan pergeseran ini antara lain:
- Melemahnya Sentimen Identitas: Keterikatan emosional pemilih terhadap partai berbasis ormas mulai memudar, digantikan oleh penilaian terhadap program kerja, figur, dan kinerja calon legislatif.
- Strategi Politik PDI-P: PDI-P dinilai lebih agresif dalam merekrut figur-figur populer dan membangun narasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Sumenep saat ini.
- Faktor Internal PKB: Penurunan ini bisa juga disebabkan oleh adanya tantangan internal, seperti kurangnya konsolidasi atau strategi yang tidak adaptif dengan perubahan selera politik pemilih.
Dengan hasil ini, PDI-P kini menjadi kekuatan politik dominan yang akan menentukan arah kebijakan di Sumenep. Sementara itu, PKB harus melakukan introspeksi mendalam untuk bisa kembali merebut hati pemilih dan mengembalikan kejayaannya. Pergeseran ini menjadi babak baru dalam sejarah politik Sumenep yang lebih kompetitif dan tidak lagi didominasi oleh satu kekuatan tunggal.


















