maduraexpose.com

 


Parlemen Sumenep

PAD Merangkak, Potensi Terbuang: Sebuah Kritik untuk PAD Disperkimhub Sumenep

474
×

PAD Merangkak, Potensi Terbuang: Sebuah Kritik untuk PAD Disperkimhub Sumenep

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Kolase foto: Istimewa.

MaduraExpose.com– Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor perhubungan di Sumenep yang baru mencapai 78% per 9 September 2025, atau Rp3.312.500.000 dari target Rp4.218.500.000, bukanlah pencapaian yang bisa dibanggakan.

 

 


Angka ini justru menjadi cermin dari lambatnya gerak dinas terkait dan terbuangnya potensi ekonomi yang seharusnya bisa dimaksimalkan. Di tengah ketidakpastian transfer dana dari pemerintah pusat, bergantung pada belas kasihan Jakarta bukanlah solusi, melainkan tanda bahwa kreativitas fiskal di daerah masih minim.


 

Ketika Parkir Lebih Berharga dari Pelabuhan

 

Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep, Agus Adi Hidayat, menyampaikan bahwa kontribusi terbesar PAD perhubungan berasal dari jasa parkir di tepi jalan umum. Dengan target pendapatan dari parkir yang mencapai Rp3,9 miliar, ini menunjukkan bahwa retribusi yang paling mudah dan sering kali dikeluhkan masyarakat justru menjadi andalan utama.

Di sisi lain, sektor yang memiliki potensi ekonomi jauh lebih besar seperti pasar, pertokoan, dan pelayanan kepelabuhanan, justru memberikan kontribusi yang “tidak terlalu banyak.” Ini adalah fakta yang mengkhawatirkan. Sumenep, sebagai kabupaten kepulauan, memiliki potensi maritim dan pelabuhan yang luar biasa. Namun, minimnya kontribusi dari sektor ini menandakan dua hal:

  1. Pengelolaan yang Tidak Optimal: Potensi besar dari pelabuhan, misalnya, belum digali secara maksimal. Apakah ada kebocoran retribusi? Apakah ada sistem yang tidak efisien?
  2. Kurangnya Inovasi: Dinas terkait gagal menciptakan skema atau kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan dari sektor-sektor strategis ini.

 

Ancaman di Depan Mata dan Desakan DPRD

 

Anggota Komisi III DPRD Sumenep, Akhmadi Yasid, dengan tepat menyoroti urgensi untuk meningkatkan PAD. Ia mengingatkan bahwa Sumenep tidak bisa terus-menerus bergantung pada dana transfer dari pusat yang sewaktu-waktu bisa dikurangi. Ancaman ini bukanlah isapan jempol belaka; dinamika fiskal nasional bisa berubah kapan saja. Jika hal itu terjadi, Sumenep akan terpukul keras jika tidak memiliki sumber PAD yang kuat.

Pernyataan “harus lebih kreatif lagi” yang disampaikan Yasid adalah desakan yang mendasar. Kreativitas di sini bukan hanya tentang menaikkan tarif parkir, melainkan tentang:

  • Audit Menyeluruh: Melakukan audit menyeluruh terhadap retribusi dari sektor jasa usaha, seperti pelabuhan dan pasar, untuk menutup celah kebocoran.
  • Pengembangan Infrastruktur: Mengembangkan fasilitas pelabuhan yang lebih modern dan efisien untuk menarik lebih banyak aktivitas ekonomi.
  • Kebijakan Progresif: Menerapkan kebijakan yang mendorong investasi dan aktivitas ekonomi di sektor-sektor potensial, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan daerah.

Optimisme Disperkimhub yang memprediksi PAD akan melebihi target di akhir tahun tidak bisa berdiri sendiri tanpa langkah-langkah konkret dan strategis. Tanpa terobosan nyata, Sumenep hanya akan terus berjalan di tempat, dengan PAD yang stagnan dan masa depan yang sangat bergantung pada kedermawanan pemerintah pusat. Sudah saatnya pemerintah daerah bergerak dari sekadar mengandalkan parkir, menuju pengelolaan potensi yang lebih besar demi kemandirian fiskal yang sesungguhnya.

 

[dbs/mjc/gim]

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


AURA WISATA

Views: 101 Sorotan Kritis Warga Dapil V: Setelah Bertahun-Tahun, Pantai Wisata Kebanggaan Masih Terjebak Stagnasi! A. Pengantar: Kritik Abadi dari Bumi Cemara Udang Pantai Lombang di Kecamatan Batang-batang, Sumenep, Madura,…

---Exposiana----

---***---