SUMENEP, MADURA EXPOSE – Di pesisir utara Madura, di mana ombak Ambunten berdebur menyentuh daratan mardikan yang sakral, tersimpan sebuah narasi purba yang belum sepenuhnya terjamah oleh tinta sejarah modern. Selama beberapa edisi terakhir, Madura Expose melakukan penelusuran arkelogis-budaya terhadap eksistensi Sintung—sebuah harmoni estetik yang bukan sekadar tari, melainkan sebuah manifestasi spiritual yang terus “bershalawat” melintasi zaman.
Benang merah sejarah ini mengerucut pada satu sosok legendaris yang karomahnya masih terasa di setiap tabuhan rebana: Kiai Macan.
Antara Singoleksono dan Jejak Teritorial Mardikan
Siapakah sejatinya sosok yang menggetarkan nyali para begal di masa silam ini? Penelusuran silsilah (genealogical research) mengungkap bahwa Kiai Macan bukanlah figur imajiner. Nama aslinya adalah Kiai Raden Singoleksono. Gelar ganda—Kiai dan Raden—menandakan sebuah fusi antara otoritas spiritual (ulama) dan strata bangsawan (nobility) yang luhur.
Menurut catatan K. RB. Mohammad Mahfuzh Wongsoleksono, sosok ini adalah cucu dari Patih Sumenep era Pangeran Rama, yakni Raden Entol Anom (Raden Ario Onggodiwongso), yang memiliki garis pancer hingga Adipati Sampang. Dalam struktur politik tradisional, Kiai Singoleksono menjabat sebagai Kepala Ambunten atau Demang—sebuah posisi strategis yang setingkat dengan otoritas pemerintahan kota saat ini.
“Di masa beliau, Ambunten adalah wilayah Mardikan—sebuah zona otonom yang dibebaskan dari pajak keraton sebagai bentuk penghormatan atas kedaulatan spiritual beliau,” ungkap Raden Imamiyah, salah satu keturunan yang masih memegang teguh riwayat lisan sang datuk.
Karomah Kentungan dan Mitos Ekspedisi Samudera
Dramaturgi kehidupan Kiai Macan dihiasi oleh fenomena metafisika yang melampaui logika modern. Konon, hanya dengan tabuhan kentungan, para pencuri dan perampok di kawasan Pantura akan kehilangan daya kamuflase mereka, terpaksa menampakkan diri dan mengembalikan barang jarahan. Sebuah sistem keamanan purba yang berbasis pada kekuatan esoteris.
Keterkaitan Kiai Macan dengan seni Sintung diyakini bermula dari sebuah ekspedisi militer-spiritual ke tanah Aceh. Riwayat lisan di Kampung Guwa mengisahkan perjalanan trans-samudera yang fantastis: Kiai Macan menunggangi ikan Mondung, hingga metafora mengendarai pe-sapean pappa (pelepah pisang). Namun, entitas yang paling melekat adalah Macan Putih, sesosok pendamping gaib yang hingga kini sering menampakkan diri kepada para peziarah di pasarean tengah sawah tersebut.
“Tujuan utama saya adalah memurnikan seni lokal dari dekadensi budaya. Sintung adalah seni shalawatan murni yang dibawa oleh Kiai Macan dari perjalanan spiritualnya,” tegas KH. Suhil Imam, tokoh karismatik Ambunten yang menjadi garda depan pelestari warisan purba ini.
Sintung: Kompleksitas Estetika yang ‘Undivided’
Secara morfologi seni, Sintung adalah sebuah perpaduan indivisible (tak terpisahkan) antara gerak dinamis hadrah, melodi gambus, dan olah vokal rancak. Ini adalah satu-satunya entitas kesenian yang bernafaskan Islam murni tanpa terkontaminasi sinkretisme yang menyimpang.
Sangat disayangkan, pasarean sang Senapati yang terletak di Kampung Guwa, Ambunten Tengah, nampak sepi dari perhatian formal pemerintah. Padahal, nisan aslinya yang masih teguh bertahan adalah saksi bisu era Golden Age Ambunten.
Kini, tugas kita bukan sekadar berziarah, melainkan menghidupkan kembali “Auman Shalawat” Kiai Macan melalui pelestarian Sintung. Jangan sampai nama besar Singoleksono tenggelam dalam amnesia sejarah, sementara pusara sang pembawa peradaban hanya dipagari oleh sunyinya hamparan sawah.
(ril/tim/red/MaduraExpose.com)






