Ketika Stadion GRP “Pamellengan” Menjadi Resido Sumpah Serapah?

Terbit: 2 Maret 2017 | 10:48 WIB

Catatan Reporter Luthfiadi ME
MADURAEXPOSE, PAMEKASAN– Tak usai kritikan demi kritikan dilakukan oleh sporter pecinta bola Pamekasan, Saat mulai awal berdirinya Stadion Gelora Ratu Pamellingan Pamekasan sampai saat terlaksananya beberapa pertandingan setelah mampu menjadi tuan rumah dalam laga piala Presiden 2017.

Stadion Ratu Pamellingan atau Gelora Ratu Pamelingan (GRP) yang dulunya bernama Stadion Pamellengan dan diresmikan dengan nama Pamellengan yang saat itu protokoler terkesan sulit mengucapkan,sehingga harus diganti dengan nama Stadion Ratu Pamellingan setelah diresmikan Pamellengan,mendapat banyak kecaman dan kritikan dari pecinta bola khususnya masyarakat Pamekasa.

Ditambah lagi dengan adanya sporter saat pertandingan yang mempunyai tiket secara resmi tidak bisa menikmati pertandingan karena tidak bisa masuk stadion, Dengan indikasi kapasitas tidak sesuai dengan jumlah tiket yang terjual,dan banyaknya dugaan calo tiket yang menyebar disetiap penjuru serta beceknya stadion yang masih berlebel baru.

Ternyata Stadion Ratu Pamellingan yang hanya indah sesaat dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Pamekasan dulunya, karna bisa menikmati pertandingan secara lansung dan menikmati pertandingan dengan mata telanjang guna melihat pemain Favoritnya.

Kini muncullah permasalahan baru saat pertandingan persahabatan Persepam melawan Gersik tadi sore, yang mana penonton membentangkan tulisan di atas kain kafan ” SAVE SGRP, INI STADION BUKAN PENJARA “, Seruan penonton secara serentak terdengar disetiap sudut tribun, dikarenakan terdapat sebuah besi pembatas/Pagar serta tingginya tribun, sehingga penonton merasa kurang puas dalam menikmati setiap pertandingan.

Dengan serentak teriakan mengikuti seruan yang lain dengan nada lantang menyuarakan
” Ini Stadion Atau Kandang Sapi ?”
” Ini stadion atau tempat kerapan Sapi?”
” Ini stadion Apa Penjara, Kok Besinya sangat besar ?”
( dalam Bahasa Madura, dengan Nada Emosi ).

Gelora Ratu Pamelingan (Madura Live)

Harapan demi harapan dari beberapa penonton yang berdiri dengan wajah kecewa agar Stadion Gelora Ratu Pamellingan dirubah layaknya stadion bertaraf Nasional Lainnya. tanpa harus menggunakan besi besar dan tribun yang tinggi untuk lebih memuaskan para penonton.[*]

Redaktur: Ferry Arbania

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Anatomi Teror: Antara Residu Militerisme dan Supremasi Hukum

Terbit: 21 Maret 2026 | 03:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | LABORATORIUM NALAR – Peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di pelataran YLBHI bukan sekadar tindak pidana penganiayaan…

Kiamat Nalar 2026: Saat Algoritma Menjadi ‘Dajjal’ dan Gaza Jadi Laboratorium Terakhir Manusia

Terbit: 19 Maret 2026 | 13:11 WIB MADURAEXPOSE.COM – Peradaban sedang berada di titik nadir yang paling berbahaya. Ketika Joe Kent di Amerika Serikat membongkar kepalsuan intelijen yang menyeret Trump…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *