Ist/Net

Oleh: Ana Aprilia
Mahasiswi Bahasa dan Sastra Inggris UPI

Umat kembali marah dan resah. Penghinaan terhadap Islam dan kaum Muslim, untuk kesekian kalinya, terjadi lagi. Kali ini penyebabnya adalah pernyataan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, gubernur DKI Jakarta, yang secara eksplisit telah melecehkan ayat dan kebenaran Alquran.

Bagi Ahok, berdasarkan klarifikasinya, pihak yang menggunakan surat Al-Maidah:51 untuk mempengaruhi orang-orang agar tidak memilih pemimpin nonmuslim adalah pengecut. Baginya ini lah yang dimaksud upaya pembodohan publik. Akan tetapi, klarifikasi tersebut tampaknya malah memperkuat opini bahwa dirinya memang melakukan pelecehan. Pasalnya, secara tidak langsung Ahok berarti menyatakan bahwa orang yang menyampaikan surat Al-Maidah:51 adalah pembohong dan ayat tersebut merupakan alat untuk berbohong atau membodohi. Hal ini tentu tidak bisa diterima karena sesungguhnya Alquran adalah sebuah kebenaran dan orang-orang yang tidak memiliki kapasitas jelas dilarang sembarangan menafsirkan.

Dapat kita saksikan, pelecehan terhadap Islam telah terjadi berkali-kali dan terus berulang. Berbagai bentuk aksi pengecaman dan protes tampaknya tak kunjung menghentikan permasalahan. Jika dianalisis, pada dasarnya hal tersebut disebabkan oleh beberapa alasan, seperti penegakan hukum yang lemah dan tidak memberikan efek jera, juga kebebasan berekspresi dan berpendapat yang dilindungi sistem demokrasi. Dalam hal ini, landasan bernegara yang sekuler lah penyebab utama dan yang paling mendasar karena secara alami telah menopang kedua hal tersebut.

Sekularisme, akidah yang memisahkan agama dari urusan kehidupan (termasuk bernegara), menyuburkan ide-ide kufur dan melindungi berbagai bentuk kebebasan. Akibatnya umat semakin jauh dari pemikiran dan pengaturan Islam. Dari segi pemikiran, sekularisme membuat umat tidak terbiasa berpikir menggunakan sudut pandang Islam karena memang negara tidak mensuasanakannya. Misalnya, terkait dengan isu di atas, banyak di antara umat yang memandang kalau menuntut dan menghalangi Ahok untuk menjadi pemimpin merupakan bentuk penindasan kaum minoritas berbau SARA yang perlu dihindari.

Kendati meyakini surat Al-Maidah:51 datang dari Allah, mereka berargumen bahwa kinerja harus lebih diutamakan daripada akidah dalam hal memilih pemimpin. Padahal hitam dan putih atau haram dan halal dalam Islam begitu tegas batasannya. Tidak boleh ada kompromi atas keduanya. Maka dari contoh singkat tersebut dapat dipastikan bahwa standar berpikir umat tidak lagi halal-haram namun asas manfaat.

Sedangkan dari segi pengaturan, sekularisme membuat hukum Islam mustahil untuk diterapkan secara menyeluruh. Dalam Islam, orang yang telah menghina Islam harus dihukum mati jika tidak mau bertobat. Namun sayangnya hal tersebut tidak dapat diimplementasikan. Padahal hukuman Islam ketika diterapkan akan membawa keberkahan karena tidak hanya memberikan efek jera dan pencegahan (jawazir) namun juga penebus dosa (jawabir) bagi pelakunya jika ia berakidah Islam. Kedua hal tersebut merupakan keistimewaan hukum Islam yang tidak dimiliki oleh sistem hukum buatan manusia. Ini lah alasan mengapa pelecehan terhadap Islam di negeri ini terus terjadi.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita selaku umat Islam segera menghentikan dan mencegah segala bentuk pelecehan terhadap Islam. Perlu digarisbawahi bahwa pelecehan atau penghinaan terhadap Islam tidak akan berhenti begitu saja hanya dengan menunjukkan kemarahan yang sesaat. Umat Islam perlu bekerja sama mencerabut akar permasalahannya yakni paham sekulerisme dan menggantinya dengan akidah Islam. Sekularisme pada faktanya telah banyak membawa kemudharatan dan merupakan sumber utama kehinaan umat. Terkait hal tersebut Umat bin Khattab ra pernah menyampaikan bahwa,

Sesungguhnya kita dulu adalah kaum yang hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam. Bagaimanapun kita mencari kemuliaan selain dengan itu Allah telah muliakan kita, maka Allah pasti akan menghinakan kita. (HR. Al Hakim)

Akhirnya, semoga serangkaian kejadian penghinaan dan pelecehan terhadap Islam dapat menyadarkan umat bahwa paham-paham kufur seperti sekularisme, liberalisme, dan derivatnya merupakan alasan mengapa Islam dan umat muslim terus dihinakan. Tidak cukup sampai di situ, umat juga perlu mendakwahkan syariah dan Khilafah untuk kembali diterapkan sebagai asas bernegara dan berkehidupan karena hanya dengannya umat menjadi terhormat.

Dalam hal ini, syariah dan Khilafah wajib diterapkan semata-mata bukan untuk mendapatkan keberkahan saja, melainkan juga sebagai konsekuensi keimanan kita selaku umat yang meyakini keberadaan Allah Swt. sebagai pencipta sekaligus pengatur kehidupan. Wallau’alambishawwab.

SYAHID|VOAI

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM