Emas Terpeleset, Dolar Berpesta: Nalar Publik Diuji Ketegangan Global

Terbit: 22 Maret 2026 | 19:11 WIB

JAKARTA — Dinamika pasar keuangan global memasuki fase anomali yang cukup tajam pada penutupan pekan ini, Minggu (22/3/2026). Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang kian membara, investor secara mengejutkan mulai meninggalkan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) konvensional dan berbondong-bondong mengalihkan likuiditas mereka ke Dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Timur Tengah Membara: ‘Tamparan Berapi’ Iran di Ben Gurion

Pergeseran preferensi investasi ini berdampak langsung pada tergelincirnya harga emas dunia ke level $4.497,37 per troy ons. Di pasar domestik, harga logam mulia turut merosot ke kisaran Rp2.893.000 per gram. Fenomena ini mencerminkan perubahan drastis dalam manajemen risiko global, di mana Dolar dianggap lebih likuid menghadapi ketidakpastian jangka pendek.

Analis Keuangan terkemuka, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa penguatan indeks Dolar yang memproyeksi level 101,20 menjadi indikator kuat kembalinya dominasi mata uang “Paman Sam”. Namun, tekanan terhadap emas tidak hanya datang dari Dolar, melainkan juga dari lonjakan harga energi. Harga minyak mentah jenis Brent yang berpotensi menyentuh level $116 per barel memicu kekhawatiran inflasi transnasional.

“Investor saat ini cenderung beralih ke Dolar AS sebagai safe haven. Lonjakan harga Brent crude oil memberikan dampak sistemik terhadap inflasi, yang pada akhirnya menekan daya tawar emas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada awak media.

Baca Juga: Lebaran Eksklusif Sang Mantan Menteri

Secara teoritis, dalam kacamata administrasi ekonomi publik, kebijakan moneter ketat yang dipertahankan bank sentral global guna meredam inflasi energi menjadi faktor teknikal utama yang membuat emas kehilangan kilaunya untuk sementara waktu. Kendati demikian, pelemahan ini diprediksi bersifat jangka pendek. Emas diyakini tetap menjadi instrumen penyelamat dalam jangka menengah hingga panjang bagi masyarakat yang ingin menjaga nilai asetnya.

Baca Juga: Anatomi Teror: Antara Residu Militerisme dan Supremasi Hukum

Bagi masyarakat di daerah, khususnya di Madura, pergerakan stabil harga emas di bawah angka Rp3 juta per gram akibat pelemahan Rupiah (yang kini bertengger di Rp16.997 per Dolar) memberikan napas lega bagi para pelaku ekonomi mikro. Momentum koreksi ini justru seringkali dipandang sebagai peluang strategis untuk melakukan akumulasi aset sebelum harga kembali melonjak mengikuti siklus ketegangan geopolitik global yang belum menemui titik reda. [red]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

BLUNDER FATAL TRUMP! BLOKADE HORMUZ HARGA MINYAK MELEDAK, PEMAKZULAN DI DEPAN MATA?

Terbit: 13 April 2026 | 22:45 WIB ISLAMABAD – Kegagalan perundingan damai di Islamabad antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu “kiamat” energi global. Keputusan Presiden Donald Trump untuk mengirim…

PERUNDINGAN GAGAL! Trump Delusi, Abaikan Iran Kini Jadi Kekuatan Global Pilar Keempat

Terbit: 13 April 2026 | 01:30 WIB ISLAMABAD, MADURAEXPOSE.COM – Dunia kini berada di ambang konfrontasi besar setelah perundingan maraton selama 21 jam di Islamabad antara Amerika Serikat dan Iran…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *