Tinggalkan Batu Bara, Industri Jawa Timur Pacu Efisiensi Lewat Kebijakan Transisi Energi Non-Fosil
Lompatan Ekonomi Biru: Mengapa Transisi Energi Fosil ke Non-Fosil Adalah Keniscayaan?

oleh -235 Dilihat
Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat meninjau mesin biomassa industri di Mojokerto
Gubernur Jatim dua periode Khofifah Indar Parawansa (Foto: Dok. Madura Expose)
Terbit: 25 Februari 2026 | 10:08 WIB

SURABAYA, MADURA EXPOSE – Akselerasi transisi energi dari fosil menuju energi baru terbarukan (EBT) kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keniscayaan bagi ketahanan ekonomi nasional. Kebijakan transisi energi yang diusung Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui inisiasi industri hijau (Green Industry) menjadi tolok ukur penting dalam menjaga stabilitas ekosistem dan efisiensi manufaktur jangka panjang.

Inisiasi PT Ajinomoto yang mengonversi bahan bakar batu bara menjadi biomassa pada steam boiler pabriknya merupakan preseden krusial. Langkah ini terbukti mampu mereduksi emisi karbon hingga 36 persen, sebuah angka signifikan dalam peta jalan pengurangan gas rumah kaca.

Investasi Alam dan Efisiensi Industri Dalam perspektif ekonomi, transisi menuju Green Economy dan Green Financial menuntut komitmen anggaran dan effort besar dari dunia usaha. Namun, Gubernur Jawa Timur dua periode Khofifah Indar Parawansa, menekankan bahwa investasi pada energi non-fosil akan memberikan nilai tambah (value added) pada daya saing industri di kancah global.

“Energi fosil semakin hari semakin habis. Kita harus bergerak pada Renewable Energy hingga mencapai Green Economy dan melompat kepada Blue Economy,” tegas Khofifah saat meninjau infrastruktur biomassa di Mojokerto.

Birokrasi dan Target EBT 2024 Secara birokrasi, Pemprov Jatim terus mendorong optimalisasi infrastruktur ramah lingkungan, termasuk pembangunan Solar Cell di berbagai titik strategis. Pemanfaatan biomassa seperti pelet kayu, serbuk kayu (sawdust), hingga cangkang sawit (palm kernel shells) dengan kapasitas mencapai 150 ton per hari menunjukkan bahwa kemitraan antara kebijakan publik dan sektor privat mampu menciptakan kedaulatan energi yang mandiri.

Langkah ini diharapkan menjadi replikasi bagi Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (Dudika) lainnya untuk segera melakukan konversi energi. Fokus pada industri hijau di Jawa Timur bukan sekadar tentang perlindungan lingkungan, melainkan strategi birokrasi anggaran yang visioner untuk memastikan keberlanjutan ekonomi masa depan.

HotExpose:  Mudik 'Sultan' ASN Lumajang: Mobil Dinas Boleh Dibawa, Pelat Tetap Merah, Dompet Harus Mandiri!

Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

No More Posts Available.

No more pages to load.