Tragedi Pilu Jalan Sehat: Bocah 11 Tahun Tewas Tertimpa Pohon, Tak Ada Ambulans di Lokasi

Terbit: 4 Agustus 2025 | 08:34 WIB

BANGKALAN — Halaman rumah dinas Bupati Bangkalan yang seharusnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dalam acara jalan sehat Hari Koperasi, berubah menjadi panggung tragedi yang menyayat hati. Minggu pagi yang cerah, 3 Agustus 2025, menjadi hari terakhir bagi YDA (Inisial), seorang bocah perempuan berusia 11 tahun, yang harus meregang nyawa akibat dahan pohon trembesi yang tumbang.

Kisah pilu ini dimulai sekitar pukul 08.30 WIB, saat ratusan peserta, termasuk YDA, dengan sabar menanti pengundian hadiah. Ia berdiri di bawah rindangnya pohon trembesi bersama gurunya, Rani Auliani, tak menyadari bahwa maut sedang mengintai dari atas. Tiba-tiba, sebuah dahan besar patah tanpa peringatan, menimpa keduanya. YDA menjadi korban paling parah, dengan luka berat di bagian belakang kepala.

Saat-saat kritis pasca-kejadian, yang seharusnya dipenuhi dengan tindakan cepat dan sigap, justru diliputi kepanikan dan kebingungan. Di tengah kerumunan yang histeris, tidak ada tim medis atau ambulans yang siaga di lokasi.

Ini adalah sebuah kelalaian fatal yang memperburuk keadaan. Bocah yang tak berdosa itu tidak bisa mendapatkan pertolongan pertama yang layak, dan harus dilarikan ke rumah sakit dengan cara yang sangat tidak semestinya.

“YDA dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil pikap karena tidak ada ambulans di lokasi,” tutur seorang saksi mata dengan suara tercekat, menggambarkan betapa gentingnya situasi.

Setibanya di rumah sakit, tim medis berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa YDA. Namun, takdir berkata lain. Dokter mendiagnosis pendarahan otak parah dan henti jantung. Upaya resusitasi tak membuahkan hasil. Bocah kelas V SDN Demangan 1 itu mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, guru, dan teman-temannya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangkalan, Nur Hotibah, memberikan pernyataan yang semakin menambah kesedihan. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak mengerahkan tenaga medis karena tidak ada permohonan dari panitia. “Saya sudah cek, belum ada surat masuk ke Dinkes. Bahkan saya cek lagi ke aplikasi dan manual, tidak ada permintaan petugas P3K atau ambulans,” jelasnya.

Nur Hotibah menekankan, seharusnya setiap penyelenggara acara besar mengajukan permintaan bantuan medis sebagai langkah antisipasi. Namun, di balik kelalaian ini, tidak ada satu pun pihak yang mau bertanggung jawab penuh. Pelaksana acara, Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Bangkalan, menepis tudingan dengan menyebut pihak lain sebagai penanggung jawab langsung.

Di tengah tarik ulur tanggung jawab, satu hal yang pasti: nyawa seorang bocah telah hilang. Tragedi YDA menjadi sebuah cermin pahit, mengingatkan kita semua akan pentingnya kesiapsiagaan dan tanggung jawab dalam setiap kegiatan, agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia karena kelalaian.

[pmc/dbs/gmn/fer]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Maraton Hibah Jatim: KPK Gali Keterangan 13 Saksi, Dua Kades Bangkalan Hadir

Terbit: 18 April 2026 | 00:32 WIB BANGKALAN – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami struktur penyaluran dana hibah APBD Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2021-2022. Bertempat di…

Sekda Tidur Pulas di LKPJ Bupati: LIRA Bangkalan Desak Ismet Efendi Dicopot

Terbit: 11 April 2026 | 19:25 WIB BANGKALAN, MADURAEXPOSE.COM – Sebuah insiden memprihatinkan mencoreng jalannya sidang paripurna di DPRD Bangkalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan, Ismet Efendi, tertangkap kamera di duga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *