Bukan Sekadar Nama! Mahmud Ismail Resmikan ‘Teras Pena’ PWI Bangkalan: Simbol Kejujuran Wartawan di Era Gempuran AI
Filosofi Kejujuran Pena di Tengah Arus Digital

oleh -212 Dilihat
Peresmian Teras Pena PWI Bangkalan oleh Mahmud Ismail
Ketua PWI Bangkalan Mahmud Ismail resmikan Teras Pena sebagai simbol keterbukaan dan kejujuran karya jurnalistik asli tanpa ketergantungan AI. [dok:Istimewa]
Terbit: 15 Februari 2026 | 05:09 WIB

MADURAEXPOSE.COM – BANGKALAN. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangkalan punya cara unik untuk menjaga harga diri profesi di tengah derasnya arus digital. Bertempat di Jl. Soekarno-Hatta, markas para kuli tinta ini resmi menyandang nama baru: Teras Pena.

Ketua PWI Bangkalan, Mahmud Ismail, mengungkapkan bahwa pemilihan nama ini bukanlah tanpa alasan atau sekadar gaya-gayaan. Ada filosofi mendalam yang sangat erat dengan keterbukaan dan keberanian bersuara.

Filosofi Teras: Ruang Blak-blakan Tanpa Sekat

Dalam kultur masyarakat Madura, teras rumah adalah tempat paling sakral untuk menyambut tamu dan berdialog secara terbuka. Hal inilah yang ingin diadopsi oleh PWI Bangkalan.

“Teras itu filosofi keterbukaan. Siapa pun bisa datang, berdialog, dan bertukar pikiran demi kemajuan pers dan masyarakat,” tegas Mahmud Ismail, pria yang merupakan alumni pascasarjana Universitas Trunojoyo tersebut, Sabtu (14/02/2026).

Artinya, PWI Bangkalan memposisikan diri sebagai rumah rakyat. Siapa pun yang ingin menyuarakan kebenaran atau sekadar berdiskusi, pintu “Teras Pena” selalu terbuka lebar tanpa batas.

Pena: Senjata Wartawan, Bukan Mesin!

Di era modern ini, banyak yang mulai meninggalkan pena dan beralih ke mesin. Namun bagi Mahmud, pena adalah simbol harga diri wartawan. Ia menegaskan bahwa karya jurnalistik harus lahir dari keringat dan nurani wartawan itu sendiri, bukan hasil “sulap” teknologi.

“Pena menandakan karya asli wartawan. Teknologi boleh berkembang, tapi independensi dan keaslian tulisan tidak boleh hilang,” cetus Mahmud dengan nada tegas.

Menariknya, Mahmud juga menyentil maraknya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI). Bagi PWI Bangkalan, wartawan tidak boleh “manja” dengan teknologi tersebut.

“Wartawan tidak bisa menjauh dari AI, namun kita gunakan AI sebaik mungkin. Bukan untuk dibuatkan berita, tetapi sebagai alat bantu mengedit. Itu batasannya,” imbuh Ketua PWI dua periode tersebut.

HotExpose:  21 Kali Jarah Jembatan Suramadu: Komplotan 'Manusia Katak' Gresik-Bangkalan Akhirnya Karandas!

Menjaga Marwah di Era Digital

Teras Pena diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh insan pers di Bangkalan agar tidak kehilangan jati diri. Di tengah kepungan berita hoaks dan konten instan, wartawan dituntut untuk tetap menulis dengan hati nurani.

“Dari Teras Pena ini, kami ingin wartawan tetap menulis dengan nurani, menjaga marwah profesi, dan tidak kehilangan jati diri,” pungkas Mahmud menutup pembicaraan.

Red./Editor: Ferry Arbania Madura Expose CADAS………

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum