MADURA EXPOSE, JOMBANG – Kabar mengejutkan datang dari panggung politik Jawa Timur. Sosok ulama perempuan kharismatik, Nyai Hj. Mundjidah Wahab, tengah menjadi perbincangan hangat menyusul kabar pemecatan dirinya dari kursi Ketua DPW PPP Jawa Timur. Di tengah hiruk-pikuk ini, publik justru diingatkan kembali pada sosok beliau yang bukan sekadar politisi, melainkan “permata” dari rahim pesantren.
Nyai Hj. Mundjidah Wahab bukanlah sosok sembarangan. Lahir di Jombang pada 22 Mei 1948, darah perjuangan mengalir deras di nadinya. Beliau adalah putri dari almarhum KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu muassis (pendiri) dan penggerak utama Nahdlatul Ulama (NU).
Sejak muda, Nyai Mundjidah telah mengabdikan diri di jalan khidmah. Mulai dari menempuh pendidikan di MI Islamiyah Bahrul Ulum Tambakberas hingga menjadi Ketua Muslimat NU Jombang, beliau membuktikan bahwa politik adalah sarana dakwah, bukan sekadar mengejar jabatan. Rekam jejaknya sebagai Anggota DPRD Jombang, Wakil Bupati, hingga Bupati Jombang periode 2018-2023, menjadi bukti kepercayaan masyarakat yang begitu besar.
Dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah, jabatan adalah amanah yang sifatnya sementara (fana). Kabar pencopotan beliau dari pimpinan PPP Jatim oleh DPP PPP tentu memicu beragam reaksi. Namun, bagi kalangan santri dan pecinta dzurriyat KH. Abdul Wahab Hasbullah, posisi politik tidak akan mengurangi kemuliaan derajat seseorang di mata umat.
Secara Islami, dinamika organisasi adalah hal yang lumrah. Namun, adab terhadap ulama dan tokoh senior tetap menjadi prioritas utama. Nyai Mundjidah selama ini dikenal sebagai sosok yang tawadhu dan bugar di usia senja, yang selalu menekankan pentingnya silaturahmi dan ketenangan dalam menghadapi badai politik.
Dibalik viralnya kabar pemecatan tersebut, ada ibrah (pelajaran) yang bisa dipetik. Bahwa seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa lama ia duduk di kursi jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Penghargaan sebagai TOP Pembina BUMD hingga kiprahnya di dunia pendidikan pesantren (MAUWH) menunjukkan bahwa khidmah beliau melampaui sekat-sekat partai politik.
Sebagai tokoh perempuan yang mampu menembus batasan status sosial, Nyai Mundjidah telah memberikan teladan bahwa politik bisa dijalankan dengan santun, penuh akhlakul karimah, dan tetap berpegang teguh pada tradisi pesantren.
Baca Juga:
Hingga berita ini diturunkan, dukungan moral terus mengalir bagi Nyai Hj. Mundjidah Wahab. Bagi masyarakat Jombang dan Jawa Timur, beliau tetaplah sosok “Ibu” yang mengayomi. Apapun dinamika yang terjadi di internal partai, marwah beliau sebagai putri Sang Pendiri NU akan tetap tinggi, setinggi semangatnya dalam memperjuangkan aspirasi umat selama lebih dari setengah abad.
(Red/Madura Expose)






