“Jangan Main-main!”: Mengapa Prabowo Curiga Dikibuli Para Menteri?

Terbit: 13 Maret 2026 | 07:05 WIB

JAKARTA – Ketegangan di meja kabinet mencapai titik didih. Presiden Prabowo Subianto secara terbuka memperingatkan para pembantunya agar menghentikan praktik laporan “Asal Bapak Senang” (ABS). Kemarahan ini bukan tanpa alasan; sang Presiden diduga telah mencium aroma data “ngibul” yang selama ini disuguhkan untuk memoles citra pemerintahan. Rocky Gerung, pengamat politik dan filsuf, menilai peringatan keras ini sebagai sinyal bahwa Prabowo mulai kembali pada rasionalitas dan kejujuran data yang menyakitkan sekalipun.

Dalam ulasannya, Rocky Gerung menyoroti adanya paradoks psikologis dalam kabinet. Para menteri cenderung memalsukan atau memoles data demi menyenangkan Presiden, sementara di sisi lain, Prabowo membutuhkan data yang sempurna untuk melakukan lompatan ekonomi besar . Rocky mencontohkan data PHK yang seringkali timpang antara versi pemerintah dan fakta di lapangan. “Jika data BPS menyebut angka tertentu, tanyalah pada pengusaha (Apindo), realitanya bisa tiga kali lipat,” cetusnya.

Lebih jauh, Rocky menduga Prabowo telah menerima “informasi alternatif” atau bisikan yang lebih akurat dari luar lingkaran birokrasi. Ketidakpercayaan ini juga merembet pada isu capital outflow. Saat data resmi mencatat pelarian modal sebesar Rp30 triliun, Rocky menggunakan intuisi metodologisnya untuk menduga angka riilnya bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat, yakni sekitar Rp100 triliun yang terbang ke luar negeri akibat kecemasan politik .

Fenomena data makro yang terlihat “cantik” namun kontras dengan kondisi mikro yang buruk, menurut Rocky, adalah bukti bahwa ada manipulasi statistik untuk sekadar memperlihatkan pertumbuhan semu . Prabowo kini berada di persimpangan: apakah ia berani memecat para menteri yang hanya bisa memberikan Public Relations ketimbang Public Opinion yang jujur? Peringatan “Jangan main-main dengan saya” adalah ultimatum bagi kabinet agar berhenti menyembunyikan luka di balik angka-angka statistik yang dipoles.

Catatan Redaksi: Laporan ini diolah secara presisi dari diskusi publik yang dipandu oleh jurnalis senior Hersubeno Arief bersama pengamat politik Rocky Gerung. Redaksi MaduraExpose.com menyajikan analisis ini sebagai bagian dari komitmen kami dalam mengawal transparansi kebijakan publik dan check-and-balance antara pemerintah dan kritikus. Seluruh poin yang disampaikan merujuk pada argumen metodologis narasumber terkait kondisi makro dan mikro ekonomi nasional.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Anatomi Teror: Antara Residu Militerisme dan Supremasi Hukum

Terbit: 21 Maret 2026 | 03:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | LABORATORIUM NALAR – Peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di pelataran YLBHI bukan sekadar tindak pidana penganiayaan…

Kiamat Nalar 2026: Saat Algoritma Menjadi ‘Dajjal’ dan Gaza Jadi Laboratorium Terakhir Manusia

Terbit: 19 Maret 2026 | 13:11 WIB MADURAEXPOSE.COM – Peradaban sedang berada di titik nadir yang paling berbahaya. Ketika Joe Kent di Amerika Serikat membongkar kepalsuan intelijen yang menyeret Trump…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *