21 Kali Jarah Jembatan Suramadu: Komplotan ‘Manusia Katak’ Gresik-Bangkalan Akhirnya Karandas!

Terbit: 16 Maret 2026 | 03:20 WIB

MADURAEXPOSE.COM, BANGKALAN – Jembatan Suramadu yang menjadi simbol integrasi Pulau Madura ternyata tak luput dari incaran predator ekonomi. Kepolisian Resor (Polres) Bangkalan sukses menggulung komplotan nelayan yang beralih profesi menjadi penjarah besi pelindung tiang pancang (pile cap) jembatan terpanjang di Indonesia tersebut. Tujuh orang diringkus dalam sebuah operasi penyergapan senyap oleh Satpolairud, Rabu (11/3/2026).

Aksi komplotan ini tergolong ekstrem. Berdasarkan rilis resmi Kapolres Bangkalan, AKBP Wibowo, para pelaku menggunakan modus operandi layaknya “manusia katak”. Mereka nekat menyelam ke dasar laut di bawah kolong jembatan untuk melepas besi pelindung antikarat, lalu menariknya ke atas kapal. Ironisnya, salah satu dari tujuh tersangka merupakan warga lokal asal Arosbaya, Bangkalan, yang berkolaborasi dengan enam warga Gresik.

Ancaman terhadap Integritas Infrastruktur Vital

Fakta yang terungkap dalam interogasi cukup mengerikan: komplotan ini telah beraksi sebanyak 21 kali. Sebanyak 16 aksi di antaranya sukses menggondol besi yang harganya dipatok Rp23 juta per potong. Secara Administrasi Keamanan Nasional, Jembatan Suramadu adalah Aset Vital Strategis. Penjarahan terhadap komponen pelindung tiang pancang bukan sekadar pencurian biasa, melainkan ancaman terhadap keselamatan transportasi dan integritas struktur jembatan dalam jangka panjang.

“Tindakan ini sangat nekat. Mereka sudah 21 kali beraksi. Dari barang bukti yang diamankan saja, kerugian negara diperkirakan mencapai Rp92 juta, belum termasuk kerusakan fungsi teknis pelindung tiang,” tegas AKBP Wibowo, Sabtu (14/3/2026).

Kegagalan Pengawasan atau Desakan Ekonomi?

Secara Sosiologi Kriminalitas, peralihan profesi nelayan menjadi penjarah besi ini memotret fenomena miris di pesisir. Namun, efektivitas patroli laut Satpolairud dalam menangkap sinyal “aktivitas tak wajar” melalui intelijen menunjukkan bahwa pengawasan di area Suramadu mulai diperketat. Publik berharap proses hukum terhadap ketujuh pelaku ini memberikan efek jera, mengingat yang mereka “makan” adalah bagian dari fondasi keselamatan publik.


EDITORIAL NOTE

Menjarah Fondasi, Menggadai Keselamatan

Mendengar kabar besi penyangga Suramadu dijarah hingga puluhan kali, kita seolah diingatkan bahwa “pagar makan tanaman” itu nyata. Jembatan yang kita banggakan sebagai urat nadi ekonomi Madura justru dipreteli oleh mereka yang mencari keuntungan sesaat. Kami di https://www.google.com/url?sa=E&source=gmail&q=MaduraExpose.com mendukung penuh Polres Bangkalan untuk mengusut tuntas hingga ke penadah besinya.

Sebab, pencuri besinya mungkin hanya nelayan yang khilaf, tapi penadahnya adalah “hiu” yang menikmati keringat para pelaku di bawah kolong jembatan. Jangan sampai karena segelintir orang yang haus harta, keselamatan jutaan orang yang melintas di atas Suramadu setiap harinya menjadi taruhan.

— Ferry Arbania

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Maraton Hibah Jatim: KPK Gali Keterangan 13 Saksi, Dua Kades Bangkalan Hadir

Terbit: 18 April 2026 | 00:32 WIB BANGKALAN – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami struktur penyaluran dana hibah APBD Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2021-2022. Bertempat di…

Sekda Tidur Pulas di LKPJ Bupati: LIRA Bangkalan Desak Ismet Efendi Dicopot

Terbit: 11 April 2026 | 19:25 WIB BANGKALAN, MADURAEXPOSE.COM – Sebuah insiden memprihatinkan mencoreng jalannya sidang paripurna di DPRD Bangkalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan, Ismet Efendi, tertangkap kamera di duga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *