Bukan Sekadar Naik Kelas: Strategi Disdik Sumenep & Inovasi Jatim Bedah Literasi Lewat Metode TaRL

oleh -153 Dilihat
Bukan Sekadar Naik Kelas: Strategi Disdik Sumenep & Inovasi Jatim Bedah Literasi Lewat Metode TaRL
Terbit: 6 Januari 2026 | 15:37 WIB

SUMENEP – Paradigma baru pendidikan mulai berakar kuat di ujung timur Pulau Madura. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep bersama Tim Inovasi Jawa Timur terus memperkuat implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi melalui pendampingan berkelanjutan bagi guru kelas awal.

Langkah ini merupakan aksi nyata pasca-advokasi penguatan literasi yang menyasar titik-titik strategis, salah satunya di SDN Nyapar 1 Kecamatan Dasuk dan SDN Larangan Kerta Kecamatan Batuputih, Kamis (26/1/2023).

 


Mengganti Standar Kaku dengan Pendekatan TaRL

Kasi Kurikulum dan Penilaian Sekolah Dasar Disdik Sumenep, Buhari, menegaskan bahwa fokus utama pendampingan ini adalah penerapan metode Teaching at the Right Level (TaRL). Sebuah pendekatan yang mematahkan stigma bahwa pembelajaran harus kaku mengikuti tingkatan kelas.

“Kita mendorong guru untuk menciptakan kreasi pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan siswa. Dengan TaRL, kita tidak lagi mengacu pada kelas berapa anak itu berada, melainkan pada sejauh mana kemampuan nyata yang dimiliki peserta didik,” jelas Buhari saat meninjau langsung di SDN Nyapar 1.

Menurutnya, setiap sekolah memiliki situasi dan kompetensi yang berbeda, sehingga pertukaran praktik baik antar-guru menjadi kunci agar materi literasi dapat terserap secara organik di tingkat gugus maupun kecamatan.


Realita di Lapangan: Bedah Capaian Pembelajaran (CP) ke Tujuan Pembelajaran (TP)

Proses transisi menuju sekolah literat bukan tanpa tantangan. Pemateri Pendamping sekaligus Fasilitator Daerah (Fasda) Inovasi, Budiyanto, mengungkapkan bahwa pendampingan kedua ini merupakan respon langsung atas kebutuhan para guru dalam menyusun administrasi kurikulum yang aplikatif.

“Kami melakukan evaluasi apakah sekolah sudah menjadi lingkungan literat. Dari Capaian Pembelajaran (CP) yang ada, guru-guru mulai belajar menurunkan Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih spesifik dan terukur,” ungkap Budiyanto.

Menariknya, dalam simulasi Asesmen Formatif Membaca yang dilakukan pada siswa kelas 1 di SDN Nyapar 1, hasilnya menunjukkan tren positif yang signifikan.

Baca Juga:

Strategi Disdik Sumenep Mendobrak Sekat Geografis Lewat ‘Safari Digital’


Data sebagai Kunci Pembelajaran Diferensiasi

Salah satu momen krusial dalam kegiatan ini adalah praktik langsung asesmen kepada siswa. Selly Maufiratul Hasanah, guru kelas 1 SDN Nyapar 1, mengakui bahwa data hasil asesmen menjadi “peta jalan” bagi guru untuk mengajar.

Berdasarkan hasil asesmen terhadap 36 siswa kelas 1:

  • 32 Siswa: Sudah lancar membaca.

  • 4 Siswa: Memerlukan pendampingan khusus (belum lancar).

“Data ini sangat membantu. Kami jadi tahu siapa yang harus diberi pengayaan dan siapa yang butuh bimbingan ekstra. Ke depannya, kami akan lebih imajinatif dalam menyesuaikan materi literasi dengan minat siswa,” ujar Selly dengan antusias.

Kesimpulan: Menuju Ekosistem Belajar yang Adaptif

Melalui kolaborasi antara Disdik Sumenep dan Inovasi Jawa Timur, pembelajaran berdiferensiasi bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Pemetaan kemampuan siswa melalui asesmen formatif menjadi fondasi kuat bagi guru untuk memberikan perlakuan berbeda sesuai kebutuhan unik setiap anak.

Dengan penguatan di kelas awal, Sumenep optimistis mampu mencetak generasi yang literat, kritis, dan siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.

Tentang Penulis: MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum