maduraexpose.com

 

Headline NewsRANAH PESANTREN

MUTIARA AMBUNTEN: Jejak Tafaquh KH Thoifur Ali Wafa, Sang Alim Nadir Penulis Lebih dari 40 Kutub

273
×

MUTIARA AMBUNTEN: Jejak Tafaquh KH Thoifur Ali Wafa, Sang Alim Nadir Penulis Lebih dari 40 Kutub

Sebarkan artikel ini

Menyambut Haul Agung Kiai Muhammad Rowi, Bani Rowi Mengenang Sosok Ulama Produktif yang Pernah Menjadi Khodim Kesayangan Syaikh Ismail Zain di Makkah Al-Mukarramah

K.H Thaifur Ali Wafa (paling kiri) saat menghadiri Haul ke-7 dan Silaturahmi Potoh Kiai Muhammad Rowi di Pondok Pesantren Al-Bustan Banyugiri, Guluk-Guluk, Kab. Sumenep, Minggu 25 Februari 2024.

Oleh: Ferry Arbania [Keturunan ketujuh dari Kiai Muhammad Rowi]

SUMENEP  – Bagi kalangan potoh (keturunan) Kiai Muhammad Rowi, dzuriyah dari seorang waliyullah yang karomahnya masyhur, sosok KH Thoifur Ali Wafa adalah tokoh sepuh yang ma’rifat dan al-alim (sangat berilmu). Beliau diamanahi sebagai Ketua Dewan Pembina KAPROWI (Kompolan Potoh Kiai Rowi).

Seluruh Bani Rowi kini bersiap-siap menyambut momentum Haul Akbar tahunan Kiai Muhammad Rowi yang telah ditetapkan pada Ahad, 1 Februari 2026 di halaman utama Pondok Pesantren Puncak Darussalam, Pamekasan.

Mari kita simak manaqib (kisah inspiratif) dari sosok al-allamah (cendekiawan agung) KH Thoifur Ali Wafa, pengasuh Pondok Pesantren Assadad Ambunten, Sumenep.


📚 Alim Sejak Sebelum Baligh: Sosok U’jubah Nadiroh

 

KH Thoifur Ali Wafa dikenal sebagai alim yang luar biasa produktif dari Ambunten. Hingga kini, karya tulis beliau yang mutafarriq (beraneka ragam) dalam bahasa Arab telah mencapai lebih dari 40 kutub (kitab).

Yang menakjubkan, beliau sudah mulai ber-nadhom (menyusun syair kitab) bahkan sebelum mencapai usia baligh, kala itu beliau mencoba men-nadhom-kan kitab Jurumiyah (kitab tata bahasa Arab dasar).

Kitab beliau, Manarul Wafa, merupakan kitab mu’tabar (sangat direkomendasikan) bagi para santri untuk dibaca. Di sana, beliau mengisahkan rihlah ilmiyah (perjalanan menuntut ilmu) beliau, termasuk pengalaman istiqomah berjalan kaki sejauh 6 kilometer setiap hari saat mengaji kepada Syaikh Ismail Zain dan Syaikh Abdullah Dardum di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah.

Restu Guru yang Penuh Mahabbah (Cinta Kasih)

 

Kiai Thoifur merupakan salah satu murid muqorrobin (terdekat/kesayangan) Syaikh Ismail Zain. Saking mahabbah-nya Syaikh Ismail, Kiai Thoifur bahkan dipercaya menjadi sekretaris pribadi selama bertahun-tahun. Sang guru sering berpesan: “Aku ingin engkau di sini bersamaku sampai aku mati.”

Namun, qodarullah (takdir Allah), Kiai Thoifur menghadapi gelombang dilema terbesar dalam hidupnya ketika sang ibunda datang ke Makkah khusus memintanya kembali ke tanah air untuk mengurus pesantren di kampung halaman.

Syaikh Ismail tak kuasa menolak permintaan ibunda murid kesayangannya. Pada pagi hari kepulangan Kiai Thoifur, dengan mata merah, Syaikh Ismail memanggil muridnya dan berkata:

“Wahai anakku, tadi malam aku tidak bisa tidur karena memikirkan kepulanganmu… Ayahmu telah meninggal, maka akulah ayahmu, akulah orang tuamu.”

Air mata Kiai Thoifur tumpah tak terbendung, sebuah isyarat batin betapa beratnya perpisahan ini.

Ijazah Istimewa: U’jubah Nadiroh

 

Puncak kemuliaan pengakuan guru terhadap muridnya tertulis dalam surat ijazah (sertifikat keilmuan) yang diberikan Syaikh Ismail. Dalam ijazah tersebut, Syaikh Ismail menuliskan:

”Amma Ba’du, sesungguhnya anak ku, murid ku, orang terdekat ku, Al Ustadz, Al Allamah, Thoifur bin Syaikh Ali Wafa telah belajar kepadaku dalam waktu yang lama. Dia adalah seorang yang tulus dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Dia adalah ‘keajaiban’ (U’jubah Nadiroh) di antara teman-temannya dengan indahnya akhlak dan budi pekertinya.”

Sebutan “U’jubah Nadiroh” (keajaiban yang langka) adalah pengakuan berkelas dari seorang mufti besar. Kiai Thoifur memang bagaikan mutiara, jarang sekali ulama Nusantara sezaman yang mampu seproduktif beliau, mengarang puluhan kitab dalam berbagai fan ilmu.

Beliau bahkan memiliki karangan Alfiyah (seribu nadhom) dalam bidang Tarikh yang dinamakan Alfiyah Ibnu Ali Wafa. Tak hanya itu, kitab matan fiqih karya Syaikhona Kholil Bangkalan yang ringkas, berhasil beliau syarah (uraikan) menjadi kitab Al-Misan yang tebalnya mencapai lebih dari seribu halaman, dan taqridhz (kata pengantar) kitab itu beliau dapatkan langsung dari Mbah Kholil Bangkalan melalui sebuah mimpi sholihah.

Kisah khidmat dan keilmuan KH Thoifur Ali Wafa ini menjadi mauidzah hasanah (nasihat baik) bagi santri dan nahdliyin seluruh Nusantara.

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----