Beli Elpiji 3 Kg Pakai Retina Mata? Said Abdullah: Jangan Hamburkan Anggaran!

Terbit: 6 April 2026 | 23:20 WIB

JAKARTA, MaduraExpose.com – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, melemparkan usulan revolusioner guna membendung kebocoran subsidi energi yang kian membengkak. Politisi asal Sumenep, Madura, ini mendesak pemerintah untuk menerapkan sistem verifikasi biometrik—mulai dari sidik jari hingga pemindaian retina mata—bagi setiap warga yang hendak membeli gas elpiji tabung 3 kilogram (kg).

Langkah ekstrem ini dinilai Said sebagai solusi konkret untuk memastikan subsidi benar-benar mendarat di tangan masyarakat yang berhak (targeted), bukan justru dinikmati oleh kelompok mampu yang selama ini dianggap “mencuri” hak warga miskin.

Efisiensi Anggaran: Potong 3,2 Juta Penerima ‘Siluman’ Dalam perspektif administrasi publik dan manajemen anggaran, Said Abdullah menyoroti adanya diskrepansi data yang cukup tajam. Berdasarkan kalkulasi Banggar, dari pagu saat ini yang mencakup 8,6 juta penerima, sebenarnya hanya 5,4 juta yang dinyatakan benar-benar layak mendapatkan subsidi.

“Caranya bukan sekadar pemerintah punya data sentral, tetapi lakukanlah dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak. Kita tidak boleh sia-sia menghambur-hamburkan anggaran,” tegas Said saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (06/04/2026).

Menolak Pengurangan Subsidi BBM Berbeda dengan usulan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) yang menyarankan pengurangan subsidi BBM untuk menekan defisit APBN, Said Abdullah justru berdiri di garda terdepan untuk menolaknya. Baginya, menyentuh harga BBM bersubsidi saat ini bukanlah langkah yang make sense (masuk akal) karena dampak inflasinya akan sangat memukul rakyat kecil.

Said lebih menyarankan pemerintah untuk melakukan rasionalisasi pada sektor gas melon yang distribusinya masih karut-marut. Menurutnya, pemanfaatan teknologi biometrik jauh lebih efektif ketimbang sekadar mengandalkan basis data manual yang rentan dimanipulasi di lapangan.

Argumentasi Said ini sekaligus menjadi antitesis terhadap kekhawatiran JK soal tumpukan utang akibat subsidi energi. Said meminta pemerintah untuk tidak “kebakaran jenggot” saat harga minyak dunia bergejolak, melainkan tetap tenang dengan melakukan penyesuaian pada harga BBM non-subsidi sambil terus menghitung dampak inflatoirnya secara cermat.(*)

Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Nalar Inklusif di Beranda Sumenep: Simfoni Empati IKA UNAIR dan Dialektika Estetika Lesbumi

Terbit: 20 Maret 2026 | 10:50 WIB MADURA EXPOSE – Di tengah keriuhan algoritma global yang seringkali terjebak pada hal-hal trivial, Kabupaten Sumenep justru mempertontonkan sebuah Simfoni Nalar yang mendalam.…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *