Momen Bupati Fauzi Bersama Ketua Dewan Pembina Kaprowi dan Ulama Makkah Syaikh Ahmad Al-Murad

Terbit: 20 Oktober 2025 | 05:17 WIB

 

Kunjungan Syaikh Ahmad Amin Sa’duddin Al-Murad ke Pendopo Keraton Sumenep menjadi penanda penting sinergi Ulama-Umara (cendekiawan dan pemimpin) dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebudayaan. Didampingi KH. Thoifur Ali Wafa Ketua Dewan Pembina Kompolan Potoh Kiai  Rowi (GherAssem) atau disingkat KAPROWI, menyambut kehadiran  Syaikh Makkah yang mengaku sangat simpati terhadap keramahan dan akhlak karimah masyarakat Madura.

 

SUMENEP – Pendopo Keraton Sumenep, yang sarat akan sejarah peradaban Islam dan kerajaan Madura, menjadi saksi pertemuan agung dan penuh barakah (keberkahan) pada Senin (6/5/2024).

 

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, berkesempatan menerima kunjungan istimewa dari seorang ulama terkemuka dari Makkah, Syaikh Ahmad Amin Sa’duddin Al-Murad.

 

Kunjungan ini semakin bernilai karena Syaikh Ahmad Al-Murad didampingi langsung oleh figur ulama lokal yang sangat berpengaruh, KH. Thoifur Ali Wafa, Pengasuh Pondok Pesantren Assadad Ambunten, sekaligus Ketua Dewan Pembina Kompolan Potoh Kiai Rowi (GherAssem) atau yang dikenal dengan akronim KAPROWI.

Sinergi Ulama-Umara di Bawah Payung Keraton

Dalam konteks keislaman kontemporer di Indonesia, pertemuan antara pemimpin pemerintahan (Umara) dengan ulama (Ulama) selalu dipandang sebagai fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial dan arah pembangunan daerah.

 

 

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo menyatakan rasa syukurnya atas kehadiran tokoh sentral keagamaan dari Tanah Suci tersebut. “Hari ini kita terima kunjungan dari Ulama Makkah, yakni Syaikh Ahmad Amin Sa’duddin Al-Murad dan KH. Thoifur Ali Wafa di Pendopo Keraton Sumenep,” tutur Achmad Fauzi.

 

Syaikh Ahmad Al-Murad, dalam kesaksiannya, memberikan pujian khusus kepada masyarakat Sumenep. Beliau menilai bahwa masyarakat Madura, khususnya Sumenep, tampak begitu ramah, sopan, dan memiliki akhlak yang bagus.

 

Hal ini sejalan dengan tradisi pesantren yang selalu menjunjung tinggi adab di atas ilmu. Bahkan, secara informal beliau juga menyampaikan bahwa cuaca di Sumenep sangat nyaman.

 

Menelusuri Jejak Sejarah dengan Keakraban Islami

Keakraban antara Syaikh Ahmad Al-Murad, KH. Thoifur Ali Wafa, dan Bupati Fauzi tampak jelas. Ketiganya tidak hanya duduk dalam pertemuan formal, tetapi juga berkeliling melihat langsung Museum Keraton Sumenep, menelusuri peninggalan bersejarah para raja-raja Islam di Madura yang hingga kini masih terawat dengan baik.

 

 

Momen ini secara simbolis menegaskan bahwa Islam di Nusantara, khususnya di Sumenep, berakar kuat pada sejarah dan budaya lokal. Kehadiran ulama Makkah yang mengapresiasi peninggalan sejarah lokal menunjukkan pengakuan terhadap kekayaan peradaban Islam Nusantara.

 

 

Kunjungan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa pembangunan fisik harus selalu diimbangi dengan penguatan spiritual dan moral. Sinergi antara pemimpin yang memegang kekuasaan (Bupati) dan ulama yang memegang otoritas moral dan keilmuan (Syaikh Ahmad dan KH. Thoifur) adalah kunci untuk menciptakan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang baik dengan Tuhan yang Maha Pengampun), di mana akhlak karimah menjadi mata uang utama dalam pergaulan sosial.

 

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *