Hari Santri 2025: Pagar Nusa Sumenep Tegaskan Ta’dzim sebagai Benteng Hidup Kiai dan Pesantren

Terbit: 19 Oktober 2025 | 23:38 WIB

Memperingati Hari Santri 2025, ribuan Pendekar Pagar Nusa Sumenep menggelar Istighotsah dan Gelar Pasukan di Pesantren Mathaliul Anwar. Ketua PC Pagar Nusa, KH Abdul Muiz, menyerukan kepada seluruh santri dan pendekar untuk menjadikan ta’dzim kepada Kiai sebagai kunci barokah ilmu dan menegaskan Pagar Nusa sebagai hujjah (benteng) pelindung Ahlussunnah Wal Jama’ah dan hubbul wathan (cinta tanah air).

 

 

SUMENEP – Dalam atmosfer spiritual yang kental dan penuh semangat ukhuwah pesantren, Pimpinan Cabang (PC) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kabupaten Sumenep menggelar hajat akbar memperingati Hari Santri 2025.

 

 

Acara yang dipusatkan di halaman Pondok Pesantren Mathaliul Anwar Pangarangan, Ahad (19/10/2025), ini dihelat sebagai Gelar Pasukan Siaga dengan tagline khas: Bela Kiai, Jaga Pesantren, Bela Negeri, yang dirangkai dengan Latihan Gabungan akbar yang dihadiri perwakilan pendekar dari seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Sumenep.

 

 


 

Ta’dzim: Mata Uang Barokah Santri

 

Ketua PC PSNU Pagar Nusa Sumenep, KH Abdul Muiz, yang memimpin langsung gelar pasukan, membacakan amanat yang sarat dengan spirit ta’dzim (penghormatan mendalam) khas santri. Ia menegaskan bahwa eksistensi Pagar Nusa jauh melampaui sekadar organisasi pencak silat, melainkan sebuah “benteng hidup” yang diemban oleh para khuddam (pelayan) kiai.

 

 

“Ini adalah fardhu kifayah kita. Tanpa ta’dzim kepada kiai, hilanglah keberkahan ilmu yang kita ngalap (cari). Tanpa penjagaan terhadap pesantren, runtuhlah benteng peradaban bangsa,” tegas Kiai Muiz, merujuk pada prinsip fundamental tradisi salafush sholeh.

 

 

Kiai Muiz menekankan bahwa Hari Santri bukanlah sekadar seremoni mauidhoh hasanah, tetapi merupakan momentum krusial untuk meneguhkan kembali Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang merupakan ijtihad para pendiri bangsa dari kalangan fuqaha (ahli fikih) pesantren.

 

Kemarahan Santri: Dikendalikan Adab, Bukan Destruktif

 

Menyikapi berbagai narasi negatif yang kerap mendiskreditkan pesantren dan ulama belakangan ini, Kiai Muiz memberikan wejangan (nasihat) tentang sikap yang harus diambil. Ia menyebut kemarahan santri adalah kemarahan yang terkendali.

 

 

“Kemarahan santri bukanlah kemarahan destruktif, tetapi bentuk cinta yang dikendalikan oleh adab dan akhlak karimah,” ujarnya.

 

 

Ia mempertegas fungsi Pagar Nusa sebagai kekuatan penenang umat. “Santri hadir bukan untuk mengancam, tetapi untuk melindungi dan menenangkan umat. Kemarahan santri bukan untuk merusak, tetapi untuk menjaga,” tegasnya, menekankan pentingnya disiplin khidmah (pengabdian) dalam setiap gerakan.

 

 

Kiai Muiz menutup arahannya dengan seruan tegas kepada seluruh Pendekar Pagar Nusa untuk senantiasa menjaga komando, kedisiplinan, dan loyalitas (wala’) penuh kepada kiai dan pesantren sebagai marja’ (rujukan) keilmuan mereka.

 

 

“Pagar Nusa bukan sekadar warisan sejarah, tetapi sejarah yang siap bergerak. Kita adalah hujjah (pembela) peradaban,” pungkas Kiai Muiz, yang disambut dawuh takbir dari ribuan pendekar yang siap menjadi pagar hidup bagi klaster keilmuan Islam Nusantara.

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *