MALAYSIA, MaduraExpose.com – Bahasa menunjukkan bangsa. Semangat inilah yang dibawa oleh Dr. Suhartatik, akademisi sekaligus Wakil Rektor I Universitas PGRI (UPI) Sumenep, saat melaksanakan misi pengabdian masyarakat di Malaysia. Selama sepekan, dosen yang akrab disapa Tika ini mendedikasikan waktunya untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi anak-anak Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah lama menetap di Negeri Jiran.
Kepedulian Terhadap Identitas Bangsa
Bagi Dr. Suhartatik, keberangkatannya ke Malaysia bukan sekadar tugas akademik, melainkan panggilan hati. Ia melihat adanya tantangan besar terkait identitas bahasa di kalangan generasi muda WNI di sana.
“Anak-anak ini adalah anak WNI yang sudah lama tinggal di Malaysia. Bahasa mereka saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, bahkan ada yang kesulitan berbahasa Indonesia,” ungkap Dr. Suhartatik kepada redaksi, Rabu (17/12/2025).
Metode yang digunakan Dr. Suhartatik pun sangat humanis dan interaktif. Ia melakukan pendampingan pembelajaran melalui:
-
Membaca buku cerita bersama.
-
Sesi mendongeng yang interaktif.
-
Mendorong anak-anak menceritakan pengalaman pribadi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik.
Pengabdian Dosen dan Kolaborasi Internasional
Kegiatan yang berlangsung selama satu minggu ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Dr. Suhartatik menjelaskan bahwa program ini terwujud berkat sinergi kuat antara Universitas PGRI Sumenep dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) serta sejumlah kampus mitra di Malaysia.
“Kami ke Malaysia selain melakukan pengabdian dosen juga dalam rangka kunjungan kerjasama. Kami berkolaborasi dalam bidang pengajaran, pengabdian, dan penelitian,” tambah dosen yang juga memiliki latar belakang sebagai jurnalis tersebut.
Sosok Inspiratif di Dunia Pendidikan
Dedikasi Dr. Suhartatik di Malaysia menambah catatan panjang kiprah positif civitas akademika Universitas PGRI Sumenep di kancah internasional. Sebagai Wakil Rektor I, ia membuktikan bahwa peran dosen tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas kampus, tetapi juga harus berdampak nyata bagi masyarakat Indonesia di mana pun mereka berada.
Melalui pendampingan ini, diharapkan anak-anak WNI di Malaysia tetap memiliki ikatan emosional dan jati diri yang kuat sebagai warga negara Indonesia melalui penguasaan bahasa nasional mereka.***








