MADURAEXPOSE.COM–Berawal dari mengerjakan tugas kuliah, Warisatul Hasanah mendapat peluang bisnis yang wah! Dari situlah, perempuan asal Madura itu meraih sukses luar biasa dalam usia yang masih sangat muda.

Waris, begitu panggilannya sehari-hari, mengaku tidak pernah membayangkan suatu ketika menjadi seorang pengusaha yang sukses. Ketika masih menimba ilmu di sekolah menengah atas di Bangkalan, Madura, Waris hanya bercitacita sederhana, bisa melanjutkan kuliah sampai meraih gelar sarjana di perguruan tinggi yang bermutu di Surabaya. Setelah itu kemana? “Ya cari kerja. Sama seperti teman-teman saya yang lainnya,’’ jawab Waris sembari tertawa kecil. Selepas SMA, Waris melanjutkan pendidikan di Surabaya.

STIE Perbanas menjadi perguruan tinggi pilihannya, karena dianggap sesuai dengan bakat dan minatnya dalam bidang ekonomi dan akuntansi. ‘’Kampus ini sudah saya kenal dan saya sudah mencari banyak informasi tentang STIE Perbanas Surabaya sebelum memutuskan untuk kuliah di sana,’’ lanjut wanita kelahiran Bangkalan, 10 Maret 1988 itu.

Suatu ketika, Waris mendapat tugas kuliah untuk membuat Studi Kelayakan Bisnis (SKB). Waris kemudian memilih bisnis batik Madura sebagai objek studi. Batik Madura menarik perhatian Waris, karena batik Madura berbeda dengan batik-batik daerah lain. ‘’Batik Madura dibuat oleh para petani dan nelayan yang bukan seniman batik,’’ papar Waris yang sehar-hari mengenakan jilbab itu.

Karena pembuatnya bukan seniman, corak batik Madura memang terlihat unik. Guratan-guratannya tegas, cenderung kasar dan kurang rapi. Motifnya juga sederhana. Umumnya mengambil inspirasi dari alam seperti biota laut dan tanaman yang banyak dijumpai di Madura. Secara visual, batik Madura mudah dibedakan dari batik lain seperti batik Solo, Jogja, Pekalongan, dan Cirebon yang sudah terkenal di seluruh dunia. ‘’Tapi justru di situlah keunggulan batik Madura. Sebagian orang malah menilai batik Madura memiliki kelebihan dibanding yang lain, karena 100 persen batik tulis yang eksklusif,’’ lanjut Waris.

Meski dinilai memiliki banyak keunggulan, industri batik Madura yang merupakan industri rakyat itu dinilai Waris kurang berkembang. Apalagi bila dibandingkan dengan batik Jogja, Solo, Pekalongan dan Cirebon. Batik-batik dari Jawa sangat mendominasi di pasar domestik maupun internasional. Karena kondisi itu, Waris tertarik untuk melakukan studi kelayakan bisnisnya.

‘’Selain untuk menyelesaikan tugas kampus juga untuk memberi kontribusi kepada para perajin batik Madura untuk berkembang,’’ kata Waris. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, Waris menemukan sebab mengapa batik Madura kurang bisa berkembang. ‘’Batik Madura kurang berkembang karena kurang sentuhan dari sisi kreativitas
dan inovasi,’’ jelas Waris.

Karena itu, Waris melanjutkan studi dengan mencari ide-ide kreatif dan inovatif yang bisa diterapkan pada industri batik Madura. ‘’Ide itu akhirnya saya temukan secara tidak sengaja ketika saya membuka lemari baju ibu saya,’’ kata Waris sambil tersenyum. Rupanya, di lemari itu, tersimpan beberapa potong kain batik Madura yang usianya sudah 15 tahun, 20 tahun, bahkan ada yang sudah berumur 30 tahun. Batik itu koleksi ibunya sejak masih remaja.

‘’Barang-barang berharga yang layak disimpan menurut perempuan Madura antara lain perhiasan emas dan kain batik. Keduanya hanya digunakan pada waktu-waktu yang istimewa saja,’’ kata Waris.

Yang menarik, batik koleksi itu memiliki warna yang cemerlang walau usianya sudah puluhan tahun dan memiliki aroma wangi. Waris penasaran dengan keharuman yang tetap melekat pada kain-kain berusia tua itu. ‘’Setelah saya bongkar, ternyata ada beberapa batang kayu gaharu yang diselipkan di antara tumpukan kain. Kayu itulah yang membuat batik tua itu beraroma wangi,’’ ujar Waris.

[goldendream.pw]

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM