Menyigi Jejak Takdir: Persahabatan dengan Fauzi, di Luar Panggung Kekuasaan

Terbit: 11 September 2025 | 09:44 WIB

Sebelum sorot lampu panggung menyoroti namanya, jauh sebelum riuhnya sanjung puji menghiasi berita, ada kisah yang tak banyak orang tahu. Kisah tentang seorang Achmad Fauzi Wongsojudo yang kala itu masih sepi dari perhatian media. Di era itu, nama Fauzi bukanlah nama besar. Ia bukan politisi yang wira-wiri di layar kaca, bukan pula pejabat publik yang rutin menggelar konferensi pers. Ia hanyalah seorang yang sedang merintis jalan takdirnya.


 

Sebuah Kredo: Menjaga Marwah Persahabatan

 

Saya, di tengah kesunyian itu, melihat sosok yang berbeda. Bukan seorang calon pejabat, melainkan seorang pribadi. Kami bersua, berinteraksi, dan saya melihat potensi yang tidak hanya sekadar janji politik, tetapi sebuah determinasi seorang anak yatim yang gigih. Saat itu, pulang kampung ke Sumenep dari pengembaraannya di Ibu Kota, jauh sebelum Achmad Fauzi Wongsojudo menjabat sebagai Wakil Bupati mendampingi Bupati Busyro Karim pada periode 2016-2021. Proses politiknya terbilang unik, datang dari luar lingkaran kekuasaan yang mapan, membuktikan bahwa politik tak melulu tentang trah, tapi juga tentang kegigihan dan jejaring.

Sejak saat itu, sebuah kredo personal saya pegang teguh: persahabatan saya dengan Achmad Fauzi Wongsojudo harus berdiri di atas fondasi pribadi, bukan profesi. Ia adalah seorang muslim, seorang sahabat, dan seorang yang saya kagumi keteguhan jiwanya, bukan karena kursinya sebagai orang nomor satu di Sumenep.


 

Tiga Larangan untuk Sang Bupati

 

Kredo ini saya uji secara nyata. Di suatu sore, saat beliau bertamu ke rumah saya di Lingkup Timur Pondok Pesantren Karay, Kecamatan Ganding, saya sampaikan tiga hal dengan lugas, tanpa basa-basi:

  1. “Tolong, jangan tawarkan saya jabatan apa pun di BUMD Pemkab Sumenep.”
  2. “Tolong, jangan goda saya dengan program apa pun yang berkaitan dengan keuangan pemerintah.”
  3. “Tolong, jangan tawarkan saya proyek atau hal sejenisnya.”

Ini bukan soal sok suci, apalagi menolak rezeki. Ini soal menjaga sebuah marwah. Marwah persahabatan yang tulus, yang tidak boleh dikotori oleh kepentingan dan transaksi politik. Hubungan kami harus tetap murni sebagai dua insan yang berjalan di garis takdir yang sama, saling mendukung, tetapi tidak saling memanfaatkan.

Hingga hari ini, di tahun 2025, komitmen itu tetap saya pegang teguh. Saya tidak pernah berusaha hadir di acara apa pun yang melibatkan Achmad Fauzi sebagai Bupati. Saya menghormati posisinya, tapi saya juga menjaga marwah persahabatan kami. Biarlah ia menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, dan biarlah saya tetap menjadi sahabatnya, yang melihat sosoknya sebagai seorang pribadi yang tekun, tangguh, dan teguh. Itulah esensi dari persahabatan sejati, sebuah simfoni yang harmonis tanpa harus terikat oleh nota dinas atau anggaran negara.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Beli Elpiji 3 Kg Pakai Retina Mata? Said Abdullah: Jangan Hamburkan Anggaran!

Terbit: 6 April 2026 | 23:20 WIB JAKARTA, MaduraExpose.com – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, melemparkan usulan revolusioner guna membendung kebocoran subsidi energi yang kian membengkak. Politisi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *