maduraexpose.com

 


Headline NewsKonfercab NU

Transformasi Ekonomi Sumenep: Antara Data BPS dan Realitas Sejahtera Merata

752
×

Transformasi Ekonomi Sumenep: Antara Data BPS dan Realitas Sejahtera Merata

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Bupati Sumenep Achmad Fauzi,SH,MH

SUMENEP — Di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, Kabupaten Sumenep mencatatkan capaian ekonomi yang luar biasa.

 

 


Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang melonjak signifikan, dari 2,16 persen pada tahun 2021 hingga mencapai 5,35 persen pada tahun 2023. Angka ini bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan nasional.

 

 

Capaian impresif ini tidak hanya terbatas pada pertumbuhan ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga meningkat pesat, dari 67,74 pada tahun 2021 menjadi 69,13 pada tahun 2023. Angka pengangguran terbuka berhasil ditekan hingga 1,71 persen, yang merupakan rekor terendah se-Madura Raya. Lebih lanjut, Indeks Gini Ratio yang mengukur kesenjangan pendapatan juga membaik menjadi 0,287, jauh lebih rendah dari rata-rata provinsi dan nasional.

 

Namun, di balik narasi keberhasilan berbasis data, muncul pertanyaan fundamental: apakah angka-angka makroekonomi ini benar-benar merefleksikan kesejahteraan yang merata di tingkat akar rumput?


 

Menggugat Data: Pertumbuhan Ekonomi, Siapa yang Menikmati?

 

Dalam kacamata ilmiah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan perbaikan IPM adalah indikator keberhasilan. Namun, perspektif ini sering kali mengabaikan disparitas yang ada. Pertumbuhan ekonomi 5,35 persen bisa saja didominasi oleh sektor-sektor tertentu, seperti pariwisata atau usaha skala besar, sementara sektor lain, seperti pertanian dan perikanan, tetap stagnan.

 

 

Kasus-kasus seperti proyek Klaster Rumput Laut yang mangkrak dan harga rumput laut yang anjlok, seperti yang sering diberitakan, menjadi bukti bahwa ada kesenjangan antara kebijakan di tingkat pusat dengan kondisi riil di lapangan. Alih-alih merata, pertumbuhan ekonomi bisa jadi hanya dinikmati oleh segelintir elite atau sektor tertentu, yang justru memperlebar jurang kesejahteraan.

 

 

 

Penurunan angka pengangguran terbuka memang menggembirakan, tetapi apakah pekerjaan yang tersedia menawarkan upah yang layak? Apakah lapangan pekerjaan tersebut cukup stabil untuk menopang kehidupan keluarga? Demikian pula dengan Indeks Gini Ratio yang membaik. Meskipun angka secara statistik menunjukkan kesenjangan yang mengecil, hal ini perlu diinvestigasi lebih lanjut di tingkat mikro. Apakah penurunan Indeks Gini Ratio disebabkan oleh peningkatan pendapatan masyarakat bawah atau justru karena penurunan pendapatan masyarakat atas?

 

 


 

Dari Angka ke Realitas: Tugas Berat di Depan Mata

 

Penting untuk diakui bahwa capaian yang ditunjukkan oleh data BPS adalah hasil kerja keras pemerintah. Namun, keberhasilan sejati bukanlah sekadar memoles angka, melainkan memastikan setiap individu merasakan dampak positifnya.

 

 

Transformasi ekonomi Sumenep tidak bisa hanya berfokus pada sektor pariwisata dan UMKM, tetapi harus menyentuh sektor primer yang menjadi tulang punggung mayoritas penduduk: pertanian, perikanan, dan kelautan. Pemerintah harus berani melangkah lebih jauh, bukan hanya membangun infrastruktur, melainkan juga menstabilkan harga komoditas petani dan memastikan akses pasar yang adil.

 

 

Data statistik memang penting, tetapi itu hanyalah cermin. Cermin tidak akan berbohong, tetapi cermin tidak bisa menceritakan seluruh kisah. Keberhasilan pembangunan sejati terletak pada kemampuan pemerintah untuk menerjemahkan angka-angka yang gemilang menjadi senyum tulus di wajah setiap warga Sumenep, dari petani rumput laut yang terpuruk hingga nelayan yang mencari rezeki di lautan. Tanpa itu, data-data fantastis ini hanya akan menjadi narasi indah yang gagal menjawab esensi dari kesejahteraan merata.

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----

---***---