Menghidupkan Ruhul Jihad Khidmat: Silatnas Annuqayah Latee Perdana, Memperkokoh Sanad Antara Santri dan Masyayikh

Terbit: 28 Oktober 2025 | 06:24 WIB

SUMENEP – Dalam suasana yang penuh barokah dan tawadhu’, ribuan Hadhirin wal Hadhirat (alumni) Pondok Pesantren Annuqayah Latee memadati halaman Rayon Dalfis untuk mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) perdananya, Sabtu (25/10/2025). Acara ini bukan sekadar reuni, melainkan haul keilmuan dan konsolidasi ruhani yang bertujuan memperkuat sanad (rantai keilmuan) serta meneguhkan kembali khidmat (pengabdian tulus) yang menjadi manhaj (metodologi) pendidikan pesantren.

Di bawah naungan tema agung “Menguatkan Sanad, Meningkatkan Khidmat,” Silatnas ini menjadi ruang ijtima’ (pertemuan) lintas angkatan, sebuah upaya kolektif untuk menjaga washilah (koneksi) spiritual dengan para guru dan masyayikh.

 

Dari Sholawat Pembuka Hingga Sesi Dha’ Kandha’an

 

Acara dibuka dengan bismillah oleh K. Khabir Syah, yang kemudian dilanjutkan dengan lantunan Sholawat yang menggetarkan jiwa, dipimpin oleh Ust. Muhsi. Sholawat menjadi washilah pembuka yang menyucikan niat hadirin dan menjembatani pertemuan dengan keberkahan.

Setelah pembukaan, suasana dihangatkan oleh sesi “Dha’ Kandha’an” (Mari Berbagi Kisah). Sesi ini menjadi mimbar bebas bagi alumni untuk berbagi iktibar (pelajaran) dan kenangan selama menempuh riyadhah (latihan spiritual/belajar) di pesantren.

Ketua Panitia, K. Ali Faruq, menyampaikan bahwa Silatnas ini adalah ikhtiar mujahadah (usaha keras) untuk melestarikan tradisi.

“Silatnas ini adalah upaya fundamental untuk memperkuat sanad keilmuan serta meneguhkan kembali khidmat kepada guru. Ini adalah konsolidasi nilai dan tradisi luhur yang telah diwariskan para masyayikh,” tegas K. Ali Faruq.

 

Tawajuh Pengasuh dan Pesan Iftitah

 

Kehadiran para pengasuh, seperti K. Abd. A’la Basyir, K. Ainul Yaqin Basyir, dan K. Hazmi Basyir, menegaskan komitmen pesantren dalam menjaga kesinambungan adab dan keteladanan antar generasi santri. Kehadiran mereka adalah tawajuh (perhatian spiritual) yang sangat berarti.

Puncak acara ditandai dengan Istighosah bersama menjelang malam, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah SWT.

Tepat pukul 22.20 WIB, K. Hazmi Basyir menutup majlis dengan pesan iftitah (penutup) yang menyentuh kalbu:

“Ngireng jadi santre se amanfaat ka angghui aghema sareng naghere.” (Marilah kita menjadi santri yang bermanfaat bagi agama dan negara.)

Pesan ini menggarisbawahi filosofi hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman), mengingatkan para alumni bahwa khidmat tidak hanya dilakukan di lingkungan pesantren, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sosial sebagai agen rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam).

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Beli Elpiji 3 Kg Pakai Retina Mata? Said Abdullah: Jangan Hamburkan Anggaran!

Terbit: 6 April 2026 | 23:20 WIB JAKARTA, MaduraExpose.com – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, melemparkan usulan revolusioner guna membendung kebocoran subsidi energi yang kian membengkak. Politisi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *