Menelisik Sarung RUU HIP Diganti Menjadi RUU PIP

Terbit: 5 Juli 2020 | 21:28 WIB

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Oleh: Tardjono Abu Muas (Pemerhati Masalah Sosial)

Setelah terbitnya Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) menjadi RUU insiatif DPR yang tak urung menghadapi gelombang besar penolakan, rupanya para inisiator RUU ini tak mau kehilangan muka dengan bersikeras ingin mengganti sarung RUU HIP menjadi RUU Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP).

Padahal, gelombang besar tuntutan penolakannya begitu sangat jelas dan tegas, cabut RUU HIP dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas).

Dengan bersikerasnya para inisiator yang ingin mengganti sarung RUU HIP menjadi RUU PIP, layaklah timbul pertanyaan, ada apa di balik penggantian sarung ini? Padahal, secara substansif yang ditolak adalah yang ada di dalam sarung tersebut yang terindikasi bau busuk faham komunismenya sangat menyengat.

Sungguh ironis dunia perpolitikan di negeri ini, sebuah produk RUU yang konon diinisiasi wakil rakyat lantas ditolak oleh rakyat yang diwakilinya, bukan dicabut malah diwacanakan hanya akan diganti sarungnya saja, RUU HIP jadi RUU PIP. Pertanyaannya, para inisiator yang bersikeras ingin mengganti sarung ini sebenarnya mewakili siapa?

Bola panas penolakan RUU ini saat ini masih terus bergulir, sementara sebagian para inisiator RUU-nya malah masih kusak-kusuk berupaya mengganti sarung RUU HIP menjadi RUU PIP.

Menelisik sarung RUU HIP ganti menjadi RUU PIP ini sungguh menggelikan, dengan berbagai argumen sebagian para inisiator berkilah ingin menutupi RUU HIP yang patut diduga berbau busuk faham komunisme akan diganti casingnya.

Terlepas dari keironisan perpolitikan di negeri ini, paling tidak, kini publik mendapatkan pembelajaran politik dari kegaduhan akibat munculnya RUU HIP ini.

Di antaranya pembelajaran politik bagi pemilih tentang soal pilih memilih wakilnya dalam sebuah partai pada saat pemilu/pilkada untuk terbuka mata hatinya memilih partai mana yang bakal memperjuangkan kepentingan rakyat atau malah sebaliknya.[][/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

  • Avatar

    administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Anatomi Teror: Antara Residu Militerisme dan Supremasi Hukum

    Terbit: 21 Maret 2026 | 03:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | LABORATORIUM NALAR – Peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di pelataran YLBHI bukan sekadar tindak pidana penganiayaan…

    Kiamat Nalar 2026: Saat Algoritma Menjadi ‘Dajjal’ dan Gaza Jadi Laboratorium Terakhir Manusia

    Terbit: 19 Maret 2026 | 13:11 WIB MADURAEXPOSE.COM – Peradaban sedang berada di titik nadir yang paling berbahaya. Ketika Joe Kent di Amerika Serikat membongkar kepalsuan intelijen yang menyeret Trump…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *