“PAN Merah dan PAN Hijau” di Pilkada Sumenep 2020

0
131
Bendera PAN/net

Oleh: Hairus Zaman (Pecinta Ngopi)
Kontestasi menuju puncak PILKADA Sumenep tahun 2020 hanya menghitung beberapa bulan lagi. Namun, dari beberapa partai politik yang sudah jelas mengeluarkan rekomendasi partai secara resmi kepada Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati di PILKADA Sumenep 2020 hingga saat ini hanya dua partai.




Partai PDIP dan PAN lebih awal telah mengeluarkan rekomendasi partai kepada Fauzi-Eva sebagai pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumenep. Di lain hal, santernya informasi yang di percaya banyak halayak bahwa sosok Fatah Jasin dari PKB dan Ra Mamak dari PPP bersatu akan menjadi lawan satu-satunya Fauzi Eva dalam kontestasi di PILKADA 2020 terus santer di permukaan.

Apabila asumsinya hanya akan ada dua Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati yang akan bertarung dalam kontestasi PILKADA Sumenep, lalu pertanyaannya apakah PAN Sumenep yang sebelumnya telah mengkonfirmasi pada publik bahwa di internal partainya solid satu barisan mendukung penuh pada Fauzi-Eva bersama partai PDIP benar-benar bulat satu suara?.

Nyatanya setelah ketua BM-PAN Hairul Anwar tidak mendapat rekomendasi partai dari partai belambang matahari tersebut sebagai bakal calon wakil bupati Sumenep, Hairul Anwar tetap menyatakan sikap akan terus mendukung Fatah Jasin dari partai PKB.

Publik melihat pilihan dukungan yang diberikan Hairul Anwar kepada Fatah Jasin tetap akan di pandang sebagai ketidaksolidtan internal PAN, itu karena hingga saat ini Hairul Anwar masih sah sebagai ketua BM-PAN.

Posisinya sebagai Ketua BM-PAN merupakan magnet tersendiri dan tentu memiliki basis pendukung yang cukup kuat. Dukungan Hairul Anwar secara penuh kepada Fatah Jasin, akan menjadi kerikil tersendiri, terhadap pilihan PAN untuk memenangkan Fauzi-Eva dalam suksesi PILKADA Sumenep.

Dalam pandangan mata publik PAN akan dilihat tidak lagi terfregmentasi menjadi satu kubu melainkan menjadi dua kubu/kutub dalam PILKADA Sumenep. kutub yang satu dilihat sebagai kutub/kubu yang lahir dari embrio karena menjaga sikap dan nilai komitmen politik atau secara sederhana karena menjaga etika politik, sedang kutub/kubu ke dua dipandang lahir dari ambisi partai yang kurang tepat mengkalkulasi pilihan politik sehingga menciderai etika politik.

Berlangsungnya dinamika politik di PILKADA Sumenep hingga Desember 2020, dalam memprediksi kalkulasi politik tentang siapa yang kuat yang akan berlabuh di hati rakyat tentunya saat ini masih terlalu dini. Di samping menunggu hasil keputusan rekomendasi partai yang lain kemana akan berlabuh, publik harus menunggu hingga di tahap penetapan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumenep secara resmi di umumkan oleh KPU Sumenep.

Hingga penetapan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumenep resmi di umumkan oleh KPU Sumenep, ada pekerjaan rumah tersendiri yang harus tentunya di selesaikan oleh PAN secara internal kepartaian. Pertama, terkait bagaimana membuat publik percaya akan soliditas PAN dalam mendukungan Fauzi-Eva di Pilkada Sumenep. Kedua, kebijakan yang harus diambil partai terhadap pilihan ketua BM-PAN Hairul Anwar yang berbeda dengan pilihan dari partai PAN.

Setiap kalkulasi terhadap langkah atau kebijakan politik internal partai apapun yang akan diambil tidak akan lepas dari kata konsekuensi. Tidak tepat mengambil dan memilih kebijakan akan berdampak fatal demi masa depan partai itu sendiri.

Usaha membangun kepercayaan publik bahwa soliditas PAN satu suara dalam memberikan dukungan kepada Fauzi-Eva, akan sulit di bangun karena Ketua BM-PAN tetap dengan pilihannya mendukung Fatah Jasin. Publik akan melihat potret tersebut sebagai pertarungan antara PAN Merah dengan PAN Hijau.




Apabila lantas kemudian, PAN mengambil langkah kebijakan memecat Hairul Anwar sebagai ketua BM-PAN dan sekaligus sebagai kader PAN karena alasan berbeda pilihan atas dukungan di PILKADA Sumenep, itu artinya PAN tidak hanya rela kehilangan sosok kader produktif, tapi juga harus rela kehilangan rombongan Hairul Anwar baik di tingkatan relawan dan di internal PAN yang selama ini ikut merawat dan membesarkan partai PAN di Sumenep. Publik akhirnya akan di perlihatkan suatu tontonan gempa politik di internal PAN di Sumenep bila akhirnya Hairul Anwar hengkang dari PAN.

Dapat diartikan, dinamika politik yang terjadi dalam tubuh PAN di Sumenep menjadi suatu dilema politik yang membuat PAN terkunci sendiri akhirnya, karena kurang tepat mengambil langkah politik yaitu tidak mempedulikan dukungan internal PAN yang diberikan kepada Hairul Anwar untuk berlaga di pentas PILKADA Sumenep sebagai Bakal Calon Wakil Bupati Sumenep.

Sejak publik mengetahui Hairul Anwar di dzolimi secara politik, maka simbol akan politik etis menjadi melekat pada sosok Hairul Anwar. Bukan hanya karena Hairul Anwar di dzolimi secara politik, namun karena Hairul Anwar ternyata tetap memegang komitmen yang telah jauh dibangun untuk mengusung dan mendukung Fatah Jasin di pentas PILKADA Sumenep.

Akhirnya dalam dinamika politik PILKADA Sumenep poros PAN tergambarkan menjadi dua poros yaitu PAN merah dan PAN hijau, pemaknaan tersebut menjadi kata yang tepat selama PAN tidak mampu mengkonfirmasi kepada publik apabila PAN benar-benar solid dalam memberikan dukungan pada Pilkada Sumenep.

PAN merah digambarkan karena keputusan pilihan PAN secara kepartaian memang sudah berlabuh pada Bakal Calon Bupati Sumenep dari Partai PDIP yaitu Fauzi sedang PAN Hijau lahir dari penggambaran pilihan Ketua BM-PAN sendiri bersama rombongannya yang tetap menyatakan sikap akan terus mendukung Fatah Jasin dari PKB di Pilkada Sumenep hingga saat ini.

Dukungan Hairul Anwar kepada Fatah Jasin dari awal, tentu bila di pahami lebih luas lagi artinya juga mengkonfirmasi bahwa dirinya ingin bersama barisan partai yang di dalamnya terdapat para ulama dan kyai yang merupakan penjaga gawang moralitas dan etika.

Sedang PAN merah sendiri tidak hanya menuai kerikil karena simbol politik etis bergeser ke sosok Hairul Anwar, tetapi karena pilihan kualisi dengan PDIP di Pilkada Sumenep , sepertinya kurang di untungkan dengan keadaan untuk mendulang kepercayaan umat di sumenep karena efek suhu politik tarik ulurnya RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di Senayan. (*)




LD

 2 [Redaksi On Studio Jakarta],  1 [Redaksi Surabaya]