Menakar Kekuatan Kultural Lawannya Incumbent

Terbit: 12 Mei 2024 | 13:05 WIB

“Kasak kusuk pilkada serentak sepertinya masih hangat-hangat dingin. Tak jauh beda dengan aktivitas rutin bisik-bisik tetangga dikalangan kaum ibu-ibu yang hobinya ngerumpi tak mengenal waktu”. Ujar Lora Yakin (nama samaran).

Benarkah persepsi Lora Yakin tentang geliat politik pilkada sebatas kegiatan ngerumpi yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga ?
Lalu seperti apa kekuatan kultural yang sebenarnya calon lawan incumbent dalam pilkada Sumenep ?

Analisa Lora Yakin yang bukan bagian dari kelompok partisan ini sungguh diatas rata-rata dari politisi figuran. Sepertinya dia benar-benar menguasai medan dan simpul kekuatan basis, bukan kekuatan buatan dadakan yang dimunculkan dimedsos, baik yang anti figur incumbent maupun yang pro incumbent.

Terbaru, muncul kabar jika ada sosok figur kultural (K. Unais) yang sedang “dirayu” partai Demokrat dan diprediksi akan berkoalisi dengan PPP. Diharapkan dengan munculnya pasangan baru in (K. Unais – K. Fikri) menjadi penantang incumbent yang sepadan. Fotonya pun disebar dibeberapa WAG oleh orang terdekatnya figur tersebut. Sementara figur potensial di PKB terkesan jalan sendiri-sendiri masih adem ayem meskipun pilkada sudah dekat tidak ada gerakan apapun.

Munculnya ke-2 figur yang tidak asing lagi bagi warga Sumenep, bagi sebagian orang menjadi angin segar dengan harapan mampu mengalahkan incumbent. Bukan hanya kalah, tapi nyungsep mengambil istilahnya seseorang yang sudah menyatakan anti dengan incumbent.
Lalu benarkah demikian adanya ?

Lora Yakin akhirnya menjelaskan kekuatan kultural dari ke-2 figur tersebut ?

1. Poros Pesantren Ambunten Guluk-Guluk.
Berdasarkan kekerabatan, ke-2 pesantren ini memiliki kedekatan hubungan emosional dan kekerabatan jika ditarik garis lurus dari masing-masing pendiri pesantren tersebut. Dan semua sudah tahu hubungan antara KH. Syarqowi (pendiri pesantren Guluk-Guluk) dengan KH. Imam Karay (pendiri ponpes Karay). Dari sekian banyak pesantren di Sumenep ini tidak lepas dan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dan tidak bisa dipisahkan.

2. Garis Politik Yang Berbeda Tapi Sama
Poros ini sebenarnya memiliki basis yang sama tapi berbeda. Sama-sama berbasis pesantren tapi jaringannya berbeda berdasarkan latar belakang garis politiknya. K. Unais selama ini dikenal sebagai mantan politisi PKB (mantan anggota DPR RI yang tahun 2019 ikut mendaftar sebagai bacbup ke PKB) basisnya tidak jauh dari kelompok partisan PKB dan warga NU.
Sementara K. Fikri sebagai ketua PPP juga memiliki jaringan yang sama dengan jejaring alumninya dan cukup diterima warga ormas diluar NU. Jika ke-2 kekuatan kultural ini bisa dibangun dan disatukan, sungguh menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menghadang kekuatan apapun besarnya diluar dari kekuatan kultural.

3. Kepentingan Politik Mereduksi Kekuatan Kultural
Berdasarkan catatan politik pilkada Sumenep, kepentingan politik seringkali mereduksi kepentingan kekerabatan kultural. Catatan peristiwa politik ini bukan hanya terjadi sekali atau ke-2 kali, tapi sudah beberapa kali terjadi. Sebab perbedaan dalam pilihan politik ini sudah biasa dalam rumah besar kekerabatan tersebut termasuk dalam ormas yang ada di Sumenep.

Bagaimana dengan kekuatan kultural yang dimiliki incumbent ?

Rupa-rupanya kekuatan incumbent ini sudah lama mempelajari dan melakukan pendekatan kultural disemua elemen masyarakat. Apalagi belakangan budaya patron klien kian hari semakin terkikis. Budaya enggan antara senioritas dengan yunior semakin hilang dan hanya berlaku sebatas hubungan kekerabatan, bukan hubungan yang lain.
Kondisi sosiologis inilah yang akan dimainkan oleh kubu incumbent untuk tetap memenangkan pilkada 2024 yang akan datang.

Bersambung, jangan lupa sruput kopinya !!

Sumenep, 11 Mei 2024

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Anatomi Teror: Antara Residu Militerisme dan Supremasi Hukum

Terbit: 21 Maret 2026 | 03:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | LABORATORIUM NALAR – Peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di pelataran YLBHI bukan sekadar tindak pidana penganiayaan…

Kiamat Nalar 2026: Saat Algoritma Menjadi ‘Dajjal’ dan Gaza Jadi Laboratorium Terakhir Manusia

Terbit: 19 Maret 2026 | 13:11 WIB MADURAEXPOSE.COM – Peradaban sedang berada di titik nadir yang paling berbahaya. Ketika Joe Kent di Amerika Serikat membongkar kepalsuan intelijen yang menyeret Trump…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *