Megah di Mata Pejabat, “Mubazir” di Mata Rakyat? Menyoal Tugu Keris Baru di Jantung Sumenep

Terbit: 19 Desember 2025 | 21:07 WIB

SUMENEP – Di balik narasi “kemegahan” dan “identitas budaya” yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), berdirinya Tugu Keris di kawasan Taman Bunga kini memicu kembali perdebatan panas di tengah masyarakat. Sementara pemerintah sibuk memoles estetika, publik justru bertanya: apakah ini simbol kebanggaan atau sekadar proyek penghamburan anggaran yang salah sasaran?

Kontradiksi Narasi: Identitas vs Realitas

Plt Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, mengklaim bahwa tugu ini adalah manifestasi identitas “Kota Keris”. Namun, jika kita menengok ke belakang, media sosial dan portal berita lokal sempat dibanjiri kritik pedas saat proyek ini pertama kali mencuat.

Banyak pihak menilai pembangunan tugu ini kontradiktif dengan kondisi lapangan:

  • Menghalangi Cagar Budaya: Sejumlah pemerhati sejarah sebelumnya menyoroti bahwa penempatan tugu di sisi depan taman berpotensi merusak view (pemandangan) asli kawasan bersejarah di sekitar Keraton dan Masjid Jamik yang seharusnya dijaga keaslian visualnya.

  • Estetika yang Dipertanyakan: Di internet, netizen sempat menjuluki proyek-proyek serupa sebagai “hiasan tanpa makna” yang justru mempersempit ruang publik bagi pejalan kaki.

  • Skala Prioritas: Di tengah tuntutan perbaikan infrastruktur jalan yang rusak di pelosok desa dan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang belum tuntas, pembangunan tugu “estetika” ini dianggap sebagai langkah yang kurang peka terhadap urgensi ekonomi rakyat.

Anggaran “Cantik” di Tengah Keluhan Publik

Pemerintah daerah menyebut rehabilitasi taman sisi selatan, timur, dan utara adalah upaya mempercantik wajah kota. Namun, publik tidak lupa pada sorotan media mengenai besaran anggaran yang dialokasikan untuk “sekadar” ornamen bola hias dan tugu, sementara fasilitas dasar di pasar-pasar tradisional seringkali luput dari perhatian serupa.

“Sudah selayaknya ruang publik dilengkapi tugu kebanggaan,” ujar Anwar Syahroni.

Pertanyaannya: Apakah kebanggaan bisa mengenyangkan perut rakyat? Ataukah tugu ini hanya akan menjadi objek foto sesaat yang kemudian terbengkalai, menambah daftar panjang aset daerah yang “megah di awal, kumuh di akhir”?

Membuang Sampah atau Membuang Anggaran?

Himbauan DLH agar masyarakat menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya terdengar ironis bagi sebagian warga. Masalah sampah di Sumenep bukan hanya soal ketersediaan tong sampah di Taman Bunga, melainkan sistem pengelolaan sampah secara makro yang masih sering dikeluhkan di berbagai sudut kota.

Tabel Perbandingan: Klaim vs Sorotan Publik

FokusKlaim Pemerintah (DLH)Kritik Publik/Media
FungsiSarana Edukasi & BudayaProyek Seremonial / Pencitraan
LokasiStrategis di Taman BungaMengganggu Estetika Cagar Budaya
TujuanMeningkatkan Daya Tarik WisataPrioritas Anggaran Dipertanyakan
DampakMempercantik Wajah KotaMempersempit Ruang Publik Terbuka

Catatan Kritis

Hadirnya Tugu Keris memang mengubah wajah Taman Bunga. Namun, sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan semen berbentuk keris. Identitas sejati sebuah daerah terletak pada kesejahteraan warganya dan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan dasar, bukan sekadar simbol yang berdiri kaku di tengah taman.

Akankah Tugu Keris ini benar-benar menjadi saksi kemajuan Sumenep, atau justru berdiri sebagai monumen pengingat akan kebijakan yang lebih mengutamakan “kosmetik” daripada “intrinsik”?

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Polres Sumenep Siaga: Antisipasi Kelangkaan BBM dan Kenaikan Harga Sembako

Terbit: 21 April 2026 | 22:42 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menanggapi keresahan masyarakat terkait isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, Polres Sumenep mengambil langkah preventif…

Dialektika Perencanaan: Sinkronisasi Epistemik dan Jembatan Masa Depan Sumenep

Terbit: 16 April 2026 | 13:26 WIB SUMENEP – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep bersama Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumenep menggelar diskursus intelektual bertajuk sarasehan untuk membedah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *