Dialektika Perencanaan: Sinkronisasi Epistemik dan Jembatan Masa Depan Sumenep

Terbit: 16 April 2026 | 13:26 WIB

SUMENEP – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep bersama Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumenep menggelar diskursus intelektual bertajuk sarasehan untuk membedah arah kebijakan publik lima tahun mendatang. Forum ini menjadi panggung bagi Kepala Bappeda Sumenep, Arif Firmanto, untuk mengurai kompleksitas teknokrasi pembangunan di Ruang Rapat Potret Koneng, belum lama ini.

Baca Juga: Strategi Pemkab Sumenep Kepung Rentenir

Sinergi Vertikal dan Equitas Spasial

Dalam perspektif Teori Administrasi Publik, pembangunan daerah tidak beroperasi dalam ruang hampa. Arif Firmanto memaparkan pentingnya alignment atau keselarasan arah pembangunan yang bersifat hierarkis, mulai dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah. Harmonisasi ini merupakan prasyarat mutlak untuk menjamin efektivitas implementasi program strategis.

Secara teoritis, pendekatan yang diterapkan Bappeda Sumenep merefleksikan model Pembangunan Terpadu (Integrated Development). Melalui keselarasan regulasi antar-level pemerintahan, potensi keberhasilan dalam mencapai sasaran makro meningkat signifikan, terutama dalam mereduksi disparitas antara wilayah daratan dan kepulauan. Hal ini adalah manifestasi dari upaya mencapai Keadilan Distributif dalam pembangunan spasial.

Baca Juga:  Kejari Sumenep ‘Linglung’ di Pusaran Logistik Pemilu?

Filosofi Perencanaan: Antara Idealisme dan Pragmatisme

Arif Firmanto, yang dikenal memiliki visi progresif, menegaskan bahwa dokumen perencanaan bukan sekadar kumpulan instrumen statistik atau tabel indikator kuantitatif. Lebih jauh, perencanaan adalah sebuah Konstruksi Sosial dan ikhtiar teleologis untuk menata peradaban masa depan.

“Perencanaan adalah seni menyeimbangkan realitas dan cita-cita. Terlalu ideal, ia akan rapuh; terlalu pragmatis, ia kehilangan jiwa. Di antara keduanya, perencanaan menemukan maknanya sebagai jembatan antara eksistensi saat ini (what is) dan keharusan masa depan (what ought to be),” ungkap Arif Firmanto dengan nada filosofis.

Baca Juga:  Labirin Keadilan di Kejari Sumenep: Antara Estafet Kajari dan “Tersangka” yang Tak Kunjung Lahir

Pernyataan tersebut selaras dengan Teori Perencanaan Inkremental yang dimodifikasi dengan visi jangka panjang. Arif menekankan bahwa di tengah ketidakpastian global, perencanaan berfungsi sebagai instrumen mitigasi sekaligus kompas moral bagi pemangku kebijakan. Dengan demikian, arah pembangunan Sumenep ke depan bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan memperjuangkan harapan kolektif masyarakat melalui tata kelola yang terukur dan berwibawa.

Red./Editor: Ferry Arbnia | Madura Expose

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Polres Sumenep Siaga: Antisipasi Kelangkaan BBM dan Kenaikan Harga Sembako

Terbit: 21 April 2026 | 22:42 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menanggapi keresahan masyarakat terkait isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, Polres Sumenep mengambil langkah preventif…

Strategi Pemkab Sumenep Kepung Rentenir

Terbit: 16 April 2026 | 12:50 WIB SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) melancarkan serangan udara terhadap praktik rente. Melalui sosialisasi dan edukasi produk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *