Kompolan Potoh Kiai Muhammad Rowi (Kaprowi) Berduka

Terbit: 30 Maret 2022 | 17:50 WIB

Sumenep (Maduraexpose.com)–Kompolan Potoh Kiai Muhammad Rowi (Bhuju’ Assem) hari ini Rabu 30/03/2022 berduka, karena salah satu pembinanya KH. Arfa Aziz menghadap ke Rahmatullah di RSI Kalianget sekitar pukul 10.00 WIB

Beliau merupakan generasi keempat keturunan Bhuju’ Assem dari jalur Kiai Badrun dengan urutan K. Arfan bin K. Abd Aziz bin K. Fadhali bin K. Badrun bin K. Rowi Langgar Assem yang beralamat di PP Nurul Jadid Rosong Ganding.

Sekretaris Umum Kaprowi K. Sahli Hamid menjelaskan bahwa sejak berdirinya Kompolan Potoh Kiai Rowi, K. Arfa termasuk tokoh sepuh yang aktif menghadiri pertemuan bulanan.

“Beliau K. Arfa adalah orang yang aktif menghadiri rutinitas kompolan bulanan potoh K. Rowi dan jarang absen kecuali sedang tidak sehat” jelasnya di sela-sela penguburan K. Arfa.

Alm. KH. Arfa Aziz Pengasuh Ponpes Nurul Jadid, Rosong Kecamatan Ganding Sumenep

Menurutnya, sejak sebulan yang lalu kesehatan beliau mulai menurun dan sempat dirawat di Puskesmas Ganding dan RSI Kalianget yang pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

“Komunikasi terakhir saya sekitar sebulan yang lalu untuk berkonsultasi penyelenggaraan Haul Agung ke-5. Beliau sudah kurang sehat dan tidak menghadiri Haul K. Rowi. Seminggu terakhir beliau dirawat di Puskesmas Ganding dan kemudian dirujuk ke RSI Kalianget” tambahnya.

Sesuai wasiat K. Arfa pada keluarga, beliau dikuburkan di Komplek Pemakaman Gerassem di Desa Daleman Ganding satu lokasi dengan Kiai Muhammad Rowi (MSA).

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

    Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

    Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

    Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *