SUMENEP – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep akan segera menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) untuk memilih nakhoda baru. Sosok yang saat ini memegang kendali kepemimpinan Tanfidziyah adalah Kiai A. Pandji Taufiq, seorang tokoh yang terpilih secara dramatis pada Konfercab sebelumnya, 2020-2025.
Kiai Pandji dikenal sebagai sosok yang konsisten menegakkan tata tertib organisasi, khususnya dalam menjaga Khittah NU (garis perjuangan) agar tetap steril dari politik praktis.
Profil Singkat Kiai A. Pandji Taufiq
| Informasi | Keterangan |
| Jabatan Saat Ini | Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep (Masa Khidmat 2020–2025) |
| Latar Belakang Pendidikan | Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. |
| Gaya Kepemimpinan | Dikenal sebagai pelaksana AD/ART organisasi yang konsisten dan fokus pada penguatan Ranting NU (tingkat desa). |
| Visi Utama | Membesarkan PCNU Sumenep tanpa terlibat dalam politik praktis. Menekankan pentingnya Gerakan di Ranting dan menghidupkan kegiatan di mushalla/masjid. |
| Momen Kunci | Terpilih setelah calon peraih suara terbanyak (KH. A. Busyro Karim, yang saat itu menjabat Bupati) dinyatakan gugur karena melanggar tata tertib larangan rangkap jabatan politik. |
Kemenangan Kiai Pandji pada Konfercab 2020 menjadi simbol kemenangan aturan dan Khittah organisasi di atas popularitas politik. Meskipun kalah suara dari Bupati Busyro Karim (116 berbanding 135), Kiai Pandji secara otomatis ditetapkan sebagai Ketua terpilih.
Pasca terpilih, Kiai Pandji langsung menyatakan komitmennya: “Saya akan membesarkan PCNU Sumenep, tanpa terlibat dalam politik praktis.” Komitmen ini menjadi trademark kepemimpinannya, mendorong NU Sumenep berfokus pada isu keumatan, ekonomi (seperti seruan menekan kemiskinan), dan legalisasi aset (tanah wakaf).
⚖️ OPINI: Siapa yang Layak Memimpin PCNU Sumenep Periode Berikutnya?
Konfercab NU Sumenep periode 2025–2030 dijadwalkan akan digelar pada Desember 2025 di Pondok Pesantren Annuqayah. Dinamika yang mencuat menjelang Konfercab menunjukkan kebutuhan kritis NU Sumenep terhadap figur pemimpin yang mampu menyeimbangkan konsolidasi internal dengan responsivitas eksternal (isu umat).
Kriteria Kepemimpinan Kunci:
- Konsistensi Khittah (Non-Politik Praktis): Larangan rangkap jabatan politik telah menjadi “harga mati” di NU Sumenep. Kandidat yang layak haruslah figur yang memiliki rekam jejak independen dan berkomitmen penuh mengabdi di NU.
- Kapasitas Ekonomi Umat: Mengingat hasil Rembuk Nahdliyin yang menunjukkan 37% warga NU menuntut isu ekonomi sebagai prioritas, pemimpin berikutnya harus memiliki visi dan program konkret untuk kemandirian ekonomi (UMKM, layanan kesehatan, dan legalisasi aset).
- Dukungan Akar Rumput (Ranting/MWC): Figur yang layak harus mampu memenangkan hati mayoritas pemilik suara dari Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan Ranting. Dukungan ini harus didasarkan pada rekam jejak pengabdian, bukan hanya popularitas.
Analisis Potensi Kandidat (Berdasarkan Dinamika Publik):
| Figur Potensial | Keunggulan & Tantangan |
| Kiai A. Pandji Taufiq (Petahana) | Keunggulan: Telah membuktikan komitmen Khittah (non-politik) dan memiliki pengalaman konsolidasi Ranting. Programnya fokus pada penguatan kelembagaan dan dakwah Aswaja. Tantangan: Adanya kritik dari beberapa pihak, termasuk isu klarifikasi RSNU, yang bisa menjadi celah bagi gerakan “Ganti Ketua NU.” |
| KH. A. Busyro Karim (Eks-Bupati) | Keunggulan: Figur sangat kuat dan populer, terbukti meraih suara terbanyak pada 2020. Dikenal memiliki jaringan luas dan kemampuan finansial. Tantangan: Harus dipastikan apakah beliau masih memiliki jabatan politik (bupati/wakil bupati) yang membuatnya kembali gugur berdasarkan tata tertib Konfercab. |
| Figur Akademisi/Muda (Contoh: Dr. Taufik Sakur, Abd. Wasid) | Keunggulan: Membawa perspektif modern, data-driven, dan manajemen profesional. Dapat menguatkan sektor pendidikan (Ma’arif) dan kesehatan (RSNU). Tantangan: Perlu membuktikan jaringan dan power yang setara dengan tokoh-tokoh sepuh untuk memenangkan suara di tingkat MWC/Ranting. |
Kesimpulan Redaksi:
Siapa pun yang terpilih pada Konfercab Desember 2025, pemimpin PCNU Sumenep berikutnya haruslah figur yang mampu menindaklanjuti data dari Rembuk Nahdliyin. Figur yang layak memimpin adalah yang dapat menjaga integritas Khittah NU sambil mentransformasi visi organisasi menjadi program ekonomi umat yang terukur dan berdampak nyata di tingkat Ranting. Penguatan ekonomi dan pelayanan (seperti RSNU) akan menjadi tolok ukur utama keberhasilan kepemimpinan yang baru.***


















