maduraexpose.com

 

JATIM EXPOSERANAH PESANTREN

JEJAK SANAD KEILMUAN LUMAJANG: Dari Khittah Salafiyah Pesantren Tertua Hingga Inovasi Eco Pesantren Aswaja

139
×

JEJAK SANAD KEILMUAN LUMAJANG: Dari Khittah Salafiyah Pesantren Tertua Hingga Inovasi Eco Pesantren Aswaja

Sebarkan artikel ini

Mengupas Manhaj Tiga Pilar Pendidikan Islam di Lumajang: Miftahul Ulum, Asy-Syarifiy, dan Darun Najah dalam Membentuk Kader Mutafaqqih Fiddin

Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul, Jatiroto atau yang akrab disebut PPMU Bakid, memiliki kedudukan istimewa sebagai pesantren tertua di Lumajang, didirikan sejak tahun 1930 oleh RKH. Zuhri bin Sirajuddin. [dok. Istimewa]

LUMAJANG – Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, adalah salah satu benteng spiritual yang kukuh menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) melalui jaringan pesantrennya. Di tengah derasnya arus modernisasi, lembaga-lembaga ini teguh memegang sanad (rantai keilmuan) para salafus shalih (pendahulu yang saleh) sambil berinovasi dalam mengaplikasikan syariat Islam demi kemaslahatan umat.

Tiga nama besar berdiri sebagai pilar utama, masing-masing dengan manhaj (metode) dan ciri khas yang unik: Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Pesantren Asy-Syarifiy, dan Pesantren Darun Najah.


1. Pondok Pesantren Miftahul Ulum (Jatiroto): Dharul Awwalin (Rumah Tertua) Lumajang

 

Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul, Jatiroto atau yang akrab disebut PPMU Bakid, memiliki kedudukan istimewa sebagai pesantren tertua di Lumajang, didirikan sejak tahun 1930 oleh RKH. Zuhri bin Sirajuddin. Sejarahnya mencatat bahwa pendirian ma’had ini adalah sebuah ikhtiar (usaha) spiritual yang mengubah lingkungan yang dikenal keras menjadi pusat dakwah dan ta’lim (pengajaran).

PPMU Bakid dikenal menjaga tradisi salafiyah melalui kajian kitab kuning dengan metode wetonan dan bandongan, memastikan sanad keilmuan tetap autentik. Namun, PPMU juga menunjukkan fleksibilitas Aswaja dalam mengintegrasikan pendidikan formal:

  • Jenjang Pendidikan: Lengkap, mulai dari Raudhatul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah (MA).

  • Pendidikan Tinggi: Yayasan yang menaungi PPMU kini juga mengelola Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan belakangan bertransformasi menjadi Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIM) Lumajang, melahirkan kader faqih, saintis, dan sosiawan yang berlandaskan IMTAQ.

Di bawah asuhan KH. Mohammad Husni Zuhri dan generasi masyayikh berikutnya, PPMU Bakid terus menjadi rujukan bagi para santri yang ingin menjadi mutafaqqih fiddin (mendalami ilmu agama).


2. Pesantren Asy-Syarifiy (Tempeh): Tarbiyah Lingkungan dan Salaf Spirit in Modern System

 

Pesantren Asy-Syarifiy Pandanwangi, Tempeh, menawarkan manhaj yang inovatif dan relevan dengan tantangan zaman. Pesantren ini secara resmi dikenal sebagai “Eco Pesantren” atau pesantren yang berwawasan lingkungan, dan dicanangkan menjadi rintisan Sekolah Adiwiyata.

Asy-Syarifiy memadukan dua kutub yang harmonis, sesuai jargon-nya: “The School of Salaf Spirit in Modern System.”

  • Aspek Salaf: Kurikulumnya menekankan pada pengajaran kitab-kitab klasik dan penanaman karakter kemandirian, kesederhanaan, dan adab santri.

  • Aspek Modern: Mengembangkan unit pendidikan formal seperti SMP, SMK, dan MA Excellent, serta program unggulan seperti Arabic and English Daily Conversation Program dan program kunjungan luar negeri.

  • Fokus Khusus: Menekankan kewirausahaan dan cinta lingkungan, sebagai wujud tanggung jawab umat Islam terhadap khalifah fil ardh (mandat menjaga bumi).


3. Pesantren Darun Najah (Sumbersuko): Darun Najah dan Kecerdasan Ganda

 

Pesantren Darun Najah di Sumbersuko didirikan oleh KH. M. Chozin Barizi, seorang alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Nama Darun Najah sendiri berarti “Rumah Kesuksesan”, sebuah doa dan harapan agar santri yang menuntut ilmu di sana mencapai falah (keberuntungan/kesuksesan) dalam segala hal.

  • Sistem Pendidikan: Darun Najah adalah pesantren salafiyah modern yang mempertahankan kajian kitab kuning sekaligus mengadopsi sistem formal yang variatif (memiliki MTs dan MA).

  • Visi Tarbiyah: Visi pesantren ini adalah mencetak kader faqih, saintis, dan sosiawan yang memiliki kecerdasan ganda (Multiple Intelligence), namun tetap berlandaskan akhlakul karimah dan Iman & Takwa (IMTAQ).

  • Manhaj: Pesantren ini secara eksplisit mengusung keislaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, memastikan para santri tumbuh dengan tasyawwuh (sikap moderat) dan tawazun (keseimbangan) yang menjadi ciri khas NU.

Ketiga pesantren ini, dengan manhaj yang berbeda namun tujuan yang sama, membuktikan bahwa tradisi pesantren di Lumajang mampu beradaptasi, berinovasi, dan terus menjadi pilar utama dalam mencetak generasi shalih dan kaffah bagi masa depan bangsa dan umat.

[Ferry Arbania]
--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----