Gus Sholah: Ulama Berperan Ajak Umat Memilih Pemimpin Muslim

Terbit: 18 Oktober 2016 | 13:38 WIB

MADURAEXPOSE.COM–Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Sholahuddin Wahid, atau yang akrab disapa Gus Sholah mengatakan, ulama tidak bisa disalahkan bila mengajak umat memilih pemimpin Muslim. Sebab, peran ulama adalah mengajak agar umat memilih pemimpin seorang Muslim.

“Kalau itu terkait keyakinan, di mana salahnya. Cuma mengatakannya harus dengan cara yang baik, tidak menimbulkan kebencian. Kita tidak bisa melarang dan menyalahkan ulama mengajak hal itu,” kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (18/10).

Tapi bila ada pihak yang tidak senang dengan anjuran para ulama itu, menurutnya, silakan saja. Termasuk bila ada pihak yang meminta ulama tidak berpolitik, bagi adik kandung Gus Dur ini, kalau ulama berpolitik praktis seharusnya memang dihindari. Karena itu sudah menjadi ranahnya politisi.

“Tapi kalau berpolitik kebangsaan, itu tidak ada masalah, malah dianjurkan,” kata putra KH Wahid Hasyim ini.

Alasannya, politik praktis adalah politik kekuasaan. Sedangkan politik kebangsaan jauh lebih mulia daripada itu, demi bangsa dan negara. Tapi tentu, menurutnya ulama terjun ke politik praktis juga tidak menjadi salah.

Karena hal itu tergantung kondisi dan kedaruratannya. Ia berkaca ketika NU terjun ke wilayah politik praktis zaman orde lama. Ketika itu, katanya, ulama mau tidak mau harus berpolitik karena menghadapi suasana yang sangat menentukan menghadapi PKI dan kondisi negara yang memerlukan masukan ulama.

“Ketika keadaan menghendaki, saya rasa hal itu boleh. Tapi kalau sekarang, apakah keadaan menghendaki itu. Itu pertanyaannya,” kata dia.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *