Perang terhadap peredaran rokok ilegal di Madura kini memasuki babak krusial. Desakan publik untuk menindak tegas sindikat “ternak cukai” dan mafia rokok ilegal bukan lagi sekadar seruan, melainkan tuntutan yang nyaring dan terorganisir.
Puncaknya, sebuah ultimatum keras dilayangkan oleh Brigade 571 Trisula Macan Putih, menargetkan langsung Kantor Bea Cukai Madura. Jika tuntutan rakyat tak digubris, surat resmi akan segera dikirim, langsung ke tangan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
Kegeraman publik bukanlah tanpa alasan. Di tengah maraknya rokok tanpa pita cukai, kecurigaan akan adanya dugaan pembiaran atau bahkan keterlibatan oknum aparat semakin menguat.
Koalisi Masyarakat Pemberantasan Korupsi Indonesia (KOMPAK INDONESIA) bahkan mendesak Presiden Prabowo untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus. Desakan ini adalah cerminan dari frustrasi kolektif terhadap kerugian negara yang terus membengkak.
Ketua Brigade 571 wilayah Madura, Sarkawi, menjadi corong suara rakyat. “Wajar kalau rakyat marah,” tegasnya lantang. Ia menambahkan, kecurigaan publik terhadap oknum Bea Cukai adalah respons logis dari sebuah fenomena yang tidak lazim.
Praktik curang, termasuk modus “ternak pita cukai,” telah secara masif merongrong salah satu pilar pendapatan utama APBN.
Ultimatum Sarkawi bukanlah gertakan semata. Ia menegaskan, jika tidak ada respons nyata dari Bea Cukai Madura, surat resmi akan dikirim ke DPP Brigade 571 untuk diteruskan langsung ke Presiden Prabowo. “Tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi demo besar-besaran,” ancamnya. Ini adalah sebuah tantangan serius bagi pemerintahan baru Presiden Prabowo.
Aksi ini menempatkan Bea Cukai di persimpangan jalan. Mereka harus membuktikan diri sebagai benteng terakhir yang menjaga aset negara. Mengabaikan ultimatum ini sama saja dengan mengundang gejolak sosial yang lebih besar dan menarik perhatian langsung dari pusat kekuasaan. Rakyat Madura menuntut keadilan, dan kali ini, mereka siap mengetuk pintu Istana.


















