Bupati Fauzi Tegaskan Haul Raja-raja Madura Bukan Seremonial

Terbit: 28 Oktober 2025 | 11:28 WIB

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep kembali menggelar perhelatan akbar Haul Raja-Raja se-Madura di Pendopo Agung Keraton Sumenep. Kegiatan religius dan budaya yang merupakan rangkaian utama Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep ini menjadi momentum krusial untuk meneladani nilai-nilai luhur pendahulu daerah.

Haul Raja-raja ini diawali dengan rangkaian majelis ilmu dan doa, melibatkan tokoh-tokoh spiritual terkemuka, seperti pembacaan Surah Al-Fatihah oleh KHR. Taufiqurrahman Syakur, Istighotsah oleh KH. Abdullah Holil, Tahlil oleh KH. Ali Fiqri Abdullah, disusul Selawat dan Ceramah Agama oleh Habib Muhammad As-Segaf, dan ditutup dengan doa oleh Habib Alwi Zainal Abidin Bilfaqih serta KH. Ach. Sa’duddin.

 

Bupati Fauzi: Haul Adalah Pengingat Akar Sejarah

 

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa Haul Raja-raja se-Madura jauh melampaui sekadar tradisi seremonial tahunan. Kegiatan ini adalah wadah refleksi dan momentum untuk meneladani perjuangan serta keteladanan para raja yang telah meletakkan dasar pemerintahan dan kebudayaan di Pulau Madura.

“Haul ini bukan hanya untuk mengenang jasa para raja, tetapi juga mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak melupakan akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang mereka wariskan,” kata Bupati di sela-sela Haul Raja-raja dan Hari Santri Nasional 2025, Senin (27/10/2025).

Bupati Fauzi menekankan bahwa Sumenep berdiri tegak hari ini berkat doa, perjuangan, dan kebijaksanaan para pendahulu. Oleh karena itu, seluruh masyarakat didorong untuk menjaga kerukunan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap daerah.

 

Menjaga Warisan Leluhur di Era Modern

 

Bupati berharap nilai-nilai yang diwariskan para raja, seperti religiusitas, kebudayaan, dan semangat gotong royong, harus terus hidup subur di tengah masyarakat modern. Hal ini menjadi benteng karakter di tengah perubahan zaman.

Achmad Fauzi juga menyoroti pentingnya semangat kebersamaan antarmasyarakat Madura.

“Kami ingin semangat kebersamaan antarmasyarakat Madura terjaga sampai kapan pun, meskipun berbeda wilayah administratif, secara sejarah dan budaya berasal dari akar yang sama,” ungkapnya, memperkuat identitas kultural Madura secara menyeluruh.

Sebagai penerus pembangunan, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo mengharapkan masyarakat semakin memahami dan mencintai sejarah daerahnya, serta menjadikan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal sebagai pedoman utama dalam membangun Kabupaten Sumenep yang berkeadaban, religius, dan berkemajuan. [Ferry Arbania]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sinergi Pendopo: Cara Bupati Achmad Fauzi Rangkul Ulama Jaga ‘Imun’ Sosial Sumenep

Terbit: 28 Februari 2026 | 16:51 WIB MADURAEXPOSE.COM – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, kembali mempertegas pentingnya kolaborasi antara umara dan ulama dalam menjaga stabilitas daerah. Dalam sebuah pertemuan hangat…

Uang Rakyat Kok ‘Tidur’ Nyenyak? Menggugat Logika Penjaga Brankas di Meja Cangkrukan

Terbit: 27 Februari 2026 | 13:34 WIB Oleh: Ferry Arbania Malam itu di Sumenep, sisa-sisa doa tarawih masih menggantung di udara, tapi di meja cangkrukan kami, obrolan justru mulai “berdosa”.…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *