Bupati Arifin “Reset” Mindset ASN Trenggalek: Ajak Kritik Diri Melalui Gagasan Dandhy Laksono dkk

oleh -595 Dilihat
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. [dok. MaduraExpose/Istimewa]

TRENGGALEK – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melakukan langkah tak biasa untuk menyuntikkan semangat perubahan di lingkungan birokrasinya. Bertempat di Amphitheater Hutan Kota Trenggalek, Senin (22/12/2025), bupati yang akrab disapa Mas Ipin ini memboyong ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membedah buku bertajuk Reset Indonesia-1.

Buku tersebut merupakan karya kolaborasi empat jurnalis investigasi lintas generasi, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Isinya menguliti persoalan struktural bangsa berbasis riset lapangan selama 15 tahun, mulai dari isu agraria hingga lingkungan hidup.

Menggugat Pikiran untuk Berbenah

Mas Ipin, yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek, menegaskan bahwa keterlibatan ASN dalam bedah buku ini bertujuan untuk membangun tradisi kritik diri di internal pemerintah daerah.

“Kalau kita ingin melihat Indonesia yang baru dan lebih baik, maka harus dimulai dari diri kita sendiri. Yang paling bertanggung jawab membawa perubahan di Trenggalek adalah pemerintahnya. Karena itu, ASN saya ajak berani mengkritisi diri,” tegas Mas Ipin di hadapan ratusan bawahannya.

Menurutnya, pemerintahan yang gagal mengoreksi perilaku dan pola pikirnya sendiri tidak akan pernah mampu membawa kemajuan bagi rakyat.

Ekonomi vs Ekologi: Titik Temu di Trenggalek

Salah satu poin krusial yang disepakati Mas Ipin dalam buku tersebut adalah konsep keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Ia mengeklaim visi ini telah menjadi nafas pembangunan di Kabupaten Trenggalek.

“Bagaimana ekonomi bisa tumbuh dengan tetap menjaga ekologi. Itu konsentrasi kita selama ini,” ungkapnya.

Meski Trenggalek memiliki kapasitas fiskal yang diakui paling kecil di Jawa Timur, Mas Ipin memotivasi para ASN dengan filosofi “Kere nanging ora sepele” (Miskin namun tidak remeh). Ia menekankan bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang untuk melakukan perubahan besar yang berkeadilan.

Dialektika Kebijakan Publik

Menariknya, Mas Ipin tidak menelan mentah-mentah seluruh isi buku tersebut. Ia menunjukkan sikap dialektis, terutama terkait pengelolaan air bersih. Jika buku Reset Indonesia-1 mendorong pemanfaatan air murni untuk masyarakat, Mas Ipin menawarkan pendekatan keberlanjutan fiskal.

Ia mencontohkan lini usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) milik Pemkab. “Ke depan kita prioritaskan pelayanan air untuk sentra industri dan bisnis. Keuntungannya nanti kita investasikan kembali untuk memperluas jaringan air bersih bagi masyarakat luas,” jelasnya.

Terkait isu lingkungan, Mas Ipin juga meluruskan persepsi publik bahwa Trenggalek anti-penebangan. Ia menjelaskan bahwa hutan rakyat (sengon) tetap berjalan sebagai hutan produksi, sementara hutan lindung dan hutan negara dimaksimalkan melalui tanaman ekonomis non-kayu guna menjaga kelestarian ekosistem.

Rekomendasi bagi Pemegang Amanah

Bagi Mas Ipin, buku Reset Indonesia-1 adalah bacaan wajib bagi para pemegang kekuasaan. Ia berharap buku ini menjadi pemantik untuk terus mencari alternatif kebijakan yang lebih adil bagi rakyat dan generasi mendatang.

“Selama kita tidak menggugat pikiran dan perilaku kita sendiri, jalannya tidak akan baik-baik saja,” pungkasnya.

[Tim/Red]

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.