SUMENEP – Ramadhan bagi Benazir Nafilah Syamlan bukan sekadar perpindahan jam makan atau ritual menahan dahaga. Di tangan perempuan kelahiran Sumenep yang dikenal lewat baris-baris puisinya yang magis ini, bulan suci adalah sebuah panggung “estetika domestik”. Di sela kesibukannya sebagai wanita karier yang menyita waktunya, Benazir justru menemukan ritme paling syahdu di balik pintu rumahnya sendiri.
Benazir, sosok hijaber yang kerap meramu diksi menjadi elegi keindahan, mengaku bahwa Ramadhan 2026 ini memberinya kemewahan yang tak terbeli: Waktu. Ketika jam kerja melandai, ia tidak memilih beristirahat di menara gading kesastrawanannya. Ia justru turun ke “akar”, menjadi guru sekaligus sahabat bagi buah hatinya.
“Bulan suci ini adalah momentum untuk lebih intim mendampingi anak-anak. Ada kebahagiaan saat bisa mengecek langsung perkembangan ibadah mereka, sesuatu yang mungkin kerap terlewat di hari-hari biasa,” tutur Benazir kepada MaduraExpose.com, Senin (2/3/2026).
Seni Menanam Keteladanan Bagi Benazir, mendidik anak bukan tentang rentetan perintah, melainkan tentang narasi perbuatan. Ia memperlakukan dapur dan meja makan sebagai ruang kelas yang hangat. Mengajari anak menyiapkan hidangan berbuka bukan sekadar urusan perut, melainkan seni menghargai proses dan rasa syukur.
Lebih jauh, sang penyair ini menanamkan filosofi kepedulian yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa di dalam setiap rezeki yang mengalir, terdapat hak orang lain yang tertitip. “Mengajari mereka bahwa sebagian harta kita bukan milik kita sepenuhnya. Kita memberi contoh nyata bagaimana mengasihi orang tua, dengan harapan jejak keteladanan ini akan mereka tiru kelak,” tambahnya dengan nada bicara yang tertata, khas seorang sastrawan.

Mencetak Calon Kepala Keluarga Ada visi besar di balik kelembutan Benazir. Ia sadar betul bahwa anak laki-lakinya adalah calon pemimpin masa depan. Dengan penuh kesadaran, ia membiarkan anak-anaknya merekam jejak keseharian ayah dan ibunya sebagai referensi moral saat mereka berkeluarga nanti.
“Sangat mengesankan mengajari calon kepala keluarga dari sekarang. Mereka melihat bagaimana ibu dan ayahnya berinteraksi sehari-hari. Itu adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada teori apa pun,” imbuhnya lagi.
Seni di Balik Sahur Benazir menutup kisahnya dengan sebuah catatan tentang “kehangatan yang tertata”. Baginya, Ramadhan menghadirkan struktur hidup yang lebih indah; shalat dan makan bersama yang menciptakan suasana rumah menjadi lebih bercahaya. Bahkan, momen membangunkan anak untuk sahur pun dianggapnya memiliki nilai artistik tersendiri.
“Membangunkan anak sahur itu ada seninya,” pungkasnya sembari tersenyum. Sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa bagi seorang Benazir Nafilah Syamlan, menjadi ibu adalah puisi terindah yang pernah ia tulis seumur hidupnya.
Penulis Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose








