JAKARTA – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah pasca serangan balasan Iran kini memasuki babak baru yang memaksa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengambil posisi defensif. Di balik hiruk-pikuk rudal dan drone, tersaji sebuah orkestra geopolitik yang lebih besar: memudarnya hegemoni Amerika Serikat dan kegagalan Washington dalam membendung laju China menuju takhta negara superpower tunggal di tahun 2045.
Secara Teori Administrasi Publik Internasional, fenomena ini disebut sebagai Great Disorder atau fase kekacauan global. Amerika Serikat saat ini dinilai sedang berada di puncak gunung yang mulai menurun, terjebak dalam beban domestik dan polarisasi sosial yang akut. Sebaliknya, China sedang melakukan akselerasi inovasi radikal untuk menggeser dominasi dolar melalui gerakan dedolarisasi. Pergeseran tatanan dunia baru (New World Order) ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas sosiologis yang sedang berlangsung di depan mata.
Indonesia: Antara ‘Indonesia Emas’ atau ‘Indonesia Cemas’ Dalam dialektika yang berkembang, Indonesia dipandang sebagai Swinging Nation yang cerdik bermain di antara dua karang. Namun, efektivitas diplomasi luar negeri ini sangat bergantung pada kepastian hukum di dalam negeri. Tanpa kejujuran radikal dalam mengakui kelemahan mendasar—seperti indeks persepsi korupsi yang stagnan—Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam pergeseran kekuasaan global. Jika stabilitas ekonomi dan penegakan hukum tidak segera dibenahi, cita-cita Indonesia Emas 2045 dikhawatirkan akan berubah menjadi “Indonesia Cemas”. [ytb-hyb/gmn/tim]






