,

Diplomasi Dua Kaki: Antara Panggung Trump dan Solidaritas Teheran

oleh -266 Dilihat
Analisis Pak Mahfud MD tentang posisi Indonesia dalam konflik Iran vs Amerika Serikat dan Israel.
ANALISIS TAJAM: Pak Mahfud MD bersama jurnalis perang Faisal Assegaf saat membedah dampak serangan Iran bagi kedaulatan Indonesia. Diskusi ini mengungkap celah diplomasi RI di tengah kepungan kepentingan global. (Foto: Tangkapan layar @Mahfud MD Official)
Terbit: 4 Maret 2026 | 06:38 WIB

SUMENEP, (MaduraExpose.com) – Dunia sedang menahan napas menyaksikan eskalasi serangan Amerika Serikat-Israel ke jantung Iran yang kian brutal. Di tengah badai mesiu yang telah menelan lebih dari 555 korban jiwa, posisi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan tajam. Polemik kian meruncing setelah Pak Mahfud MD, melalui kanal resminya, membedah secara “terus terang” arah kebijakan luar negeri Indonesia yang dianggap sedang meniti tali tipis antara kepentingan Barat dan mandat konstitusi.

Secara Teori Administrasi Publik dan Diplomasi Pertahanan, pilihan Indonesia untuk bergabung dalam “Dewan Perdamaian” bentukan Donald Trump dinilai sebagai langkah yang kontradiktif. Pak Mahfud MD dan Faisal Assegaf menyoroti bahwa keterlibatan ini berisiko mendiskreditkan posisi Indonesia sebagai negara dengan politik “Bebas Aktif”. Dalam kacamata Hubungan Internasional, upaya Indonesia menawarkan mediasi dipandang sebagai langkah Anticipatory Governance yang berani, namun sekaligus rentan karena posisi tawar yang dianggap belum cukup kuat untuk menekan hegemoni Washington.

Paradoks ‘Peacekeeper’ di Tengah Blokade Faisal Assegaf, jurnalis yang pernah mendekam di sel Hizbullah, menegaskan bahwa Iran bukanlah negara yang mudah takluk meski pemimpin tertingginya, Ali Khamenei, telah gugur. Suksesi kepemimpinan di Teheran yang berjalan stabil menunjukkan ketahanan sistem pemerintahan yang solid. Di sisi lain, rencana pengiriman 8.000 pasukan Indonesia ke Gaza melalui mekanisme yang didominasi sekutu Israel memicu kekhawatiran publik akan potensi Indonesia hanya menjadi “penjaga gerbang” kepentingan tertentu, alih-alih pelindung kemanusiaan sejati.

Bagi Madura Expose, gejolak ini adalah panggilan bagi “Mata Elang” Nusantara untuk tetap kritis. Indonesia tidak boleh hanya diam sebagai penonton, namun juga tidak boleh terjebak dalam skema perdamaian yang justru meminggirkan hak kedaulatan bangsa-bangsa tertindas.

HotExpose:  Ramadan Sumenep: Antara 'Ketukan Pintu' Duafa dan 'Gedoran' Pintu Kafe!

Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

No More Posts Available.

No more pages to load.