TEHERAN, MaduraExpose.com — Dunia internasional kini terjebak dalam pusaran “Political Volatility” yang ekstrem pasca-insiden yang melenyapkan figur sentral Iran, Ali Khamenei. Namun, di balik narasi kemenangan taktis yang digaungkan dari Tel Aviv dan Pentagon, terdapat celah Administrasi Publik Internasional yang sengaja ditutup-tutupi: yaitu kegagalan intelijen kolektif dalam memprediksi “efek domino” pada stabilitas makroekonomi global.
Secara teoritis, dalam Teori Anggaran Pertahanan (Defense Budgeting Theory), serangan udara yang bersifat “surgical strike” ini bukan sekadar operasi militer, melainkan investasi risiko tinggi yang berpotensi memicu keruntuhan fiskal di kawasan Teluk. “Dunia sedang menyaksikan keangkuhan sirkuit kekuasaan yang mengabaikan nilai kemanusiaan demi ambisi teritorial,” ungkap pengamat kebijakan publik Madura Expose.
Langkah Amerika Serikat yang memberikan dukungan logistik penuh kepada Israel di bawah doktrin masa lalu, kini justru menempatkan ekonomi AS sendiri di ujung tanduk. Dengan Selat Hormuz yang terancam menjadi “kuburan energi”, biaya asuransi pengiriman global akan meroket, menciptakan inflasi tak terkendali yang akan dirasakan hingga ke meja makan warga di jantung Amerika. Ini adalah bukti nyata bahwa keangkuhan dunia sering kali melukai dirinya sendiri melalui kebijakan yang tidak kalkulatif.







